Kades Timbulsloko Nadhiri: Rob Menggerus Sawah dan Tambak Sejak 2016, Sebagian Permukiman Mulai Tenggelam

Sawah dan Tambak Kehilangan Fungsi

BeritaWonogiri.com [DEMAK] – Warga Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, masih bertahan di tengah abrasi dan banjir rob. Di desa itu, Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bersama Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menanam mangrove, Senin, 19 Oktober 2026.

Timbulsloko dipilih sebagai lokasi percontohan (demonstration plot atau demplot) perlindungan Pantai Utara Jawa dengan pendekatan Nature-based Solutions atau solusi berbasis alam. Pendekatan ini mengandalkan fungsi ekosistem, termasuk mangrove, untuk membantu mengurangi dampak gelombang dan abrasi.

Kegiatan itu turut dihadiri Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) Didit Herdiawan, kepala daerah, dan masyarakat setempat.

Kepala Desa Timbulsloko Nadhiri mengatakan, kondisi desanya mulai memburuk sejak 2016. Air pasang, abrasi, dan rob yang berulang membuat lahan pertanian dan tambak yang sebelumnya produktif perlahan kehilangan fungsi. Sebagian wilayah permukiman mulai tenggelam.

“Dulu Timbulsloko termasuk desa yang kaya raya. Ada sawah, tegalan, dan tambak. Penghasilan setiap hari ada udang dari tambak, terus empat bulan sekali panen padi, cabai, jagung, dan bandeng. Setelah kena abrasi, hancur semuanya,” kata Nadhiri.

Nadhiri, yang menjabat kepala desa sejak 2009, mengatakan pemerintah desa sempat menyiapkan pemindahan warga ke tempat lebih aman. Namun, persoalan ekonomi membuat sebagian warga kembali ke tempat tinggal semula.

“Warga bertahan di sini karena masalah ekonomi. Umur 40 tahun kalau kerja bangunan sudah agak loyo, tidak kuat. Kalau mau kerja di pabrik tidak diterima, akhirnya kembali lagi ke sini. Paling tidak tiap hari bisa dapat kerang, udang, atau kepiting dari belakang rumah,” ujarnya.

Masripah, warga Dukuh Wonorejo, Desa Timbulsloko, merasakan langsung dampak rob. Selama bertahun-tahun tinggal di sana, ia beberapa kali meninggikan lantai dan rumah agar air laut tidak masuk.

“Sudah lama dialami warga sini. Kalau bisa pasang pemecah ombak biar tidak besar sampai sini (daratan). Semoga dengan kegiatan ini dan adanya Giant Sea Wall nanti bisa mengurangi rob,” kata Masripah.

Pemerintah desa juga berupaya menjaga mangrove yang tersisa. Lewat peraturan desa, warga yang menebang satu pohon mangrove wajib menggantinya dengan 10 pohon baru. Kewajiban serupa berlaku bagi warga yang menikah dan pemilik ternak yang hewannya memakan mangrove.

“Ini masih berjalan sampai sekarang,” kata Nadhiri.

Pemerintah desa juga berharap mengembangkan Timbulsloko sebagai desa wisata mangrove.

Luthfi mengatakan, penanaman mangrove merupakan salah satu langkah mengurangi dampak abrasi dan banjir rob di kawasan Pantai Utara Jawa Tengah. Sepanjang 2025, gerakan Mageri Segoro Pemprov Jateng mencatat penanaman sekitar 2,34 juta batang mangrove di lahan seluas 257 hektare. Penanaman tersebar di 107 desa, 54 kecamatan, dan 17 kabupaten/kota.

Luthfi mengakui sebagian tanaman tidak bertahan hidup. Menurutnya, penggunaan HexBricks diharapkan mendukung keberhasilan pemulihan mangrove. Ia juga berharap pembangunan Giant Sea Wall dapat menjadi bagian dari solusi untuk Pantura.

AHY mengatakan, mangrove membantu meredam energi gelombang laut sehingga mengurangi dampak abrasi. Karena itu, perlindungan pesisir dilakukan lewat pendekatan hibrida, yakni memadukan infrastruktur fisik seperti tanggul pantai dan tanggul laut dengan solusi berbasis alam.

AHY mengajak berbagai pihak mengawal pembangunan Giant Sea Wall.

“Mari kita kawal bersama-sama pembangunan Giant Sea Wall ini, dimulai dari penanaman mangrove. Jateng nanti dimulai dari Kendal, Semarang, dan Demak,” katanya. (*)

Komentar