BeritaWonogiri.com [SEMARANG] – Program MBG BUMDes Jawa Tengah menjelma lebih dari sekadar penyedia makan bergizi. Gubernur Ahmad Luthfi mengungkapkan program ini kini menjadi mesin penggerak ekonomi desa yang melibatkan ratusan BUMDes dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai pemasok bahan pangan lokal.
Dalam Rapat Koordinasi MBG di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Selasa (3/3/2026), program MBG BUMDes Jawa Tengah menunjukkan progres signifikan. Hingga kini, 119 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah menjalin kemitraan strategis.
“Program MBG ini bukan sekadar soal makan bergizi. Di dalamnya ada investasi strategis membangun sumber daya manusia sekaligus efek berganda terhadap perekonomian daerah, termasuk penguatan wirausaha di 35 kabupaten/kota,” ujar Luthfi optimis.
Dari total 119 SPPG dalam program MBG BUMDes Jawa Tengah, rinciannya terbagi dua. Sebanyak 53 SPPG bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Sementara 64 SPPG lainnya bermitra dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Komoditas yang disuplai meliputi ayam, telur, sayuran, bumbu, hingga bahan pangan lain. Semua dipasok langsung dari desa-desa setempat, menciptakan rantai pasok pendek yang menguntungkan petani dan pelaku usaha lokal.
Data program MBG BUMDes Jawa Tengah menunjukkan capaian membanggakan. Dari 8.523 desa/kelurahan di Jawa Tengah, sebanyak 6.217 KDKMP atau 73 persen telah beroperasi.
Total modal yang terkumpul mencapai Rp 34,6 miliar dengan keanggotaan 200.007 orang. Jawa Tengah juga menyumbang 598 gedung KDKMP atau sekitar 35 persen dari total nasional.
Luthfi menegaskan integrasi dalam program MBG BUMDes Jawa Tengah harus terus diperkuat. Tujuannya agar dampak ekonominya semakin luas dan merata di seluruh wilayah.
“Saya minta para bupati dan wali kota melakukan konektivitas antara MBG dengan koperasi di daerah masing-masing. Ini harus linear dan saling menguatkan,” tegasnya dengan sungguh-sungguh.
Sebagai salah satu lumbung pangan nasional, Jawa Tengah menargetkan produksi padi 2026 sebesar 10,55 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka ini naik 12,22 persen dibanding realisasi 2025.
Target tersebut diproyeksikan menopang keberlanjutan program MBG BUMDes Jawa Tengah. Sekaligus menjaga stabilitas dan perputaran ekonomi desa yang menjadi tulang punggung perekonomian regional.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan program MBG BUMDes Jawa Tengah sejalan dengan visi nasional. Ia menyebut MBG dirancang sebagai penggerak ekonomi rakyat yang berkelanjutan.
“Jalannya ekonomi UMKM di desa itu lewat SPPG. Jangan lagi cari grosir jauh-jauh. Libatkan koperasi desa, BUMDes, petani, peternak, dan nelayan sebagai produsen pangan lokal,” ujar Zulkifli Hasan tegas.
Menurutnya, koperasi desa harus berfungsi sebagai agregator sekaligus penyangga harga. Ketika harga gabah, jagung, ikan, atau komoditas lain turun di bawah harga acuan, koperasi dapat menyerap hasil produksi dan menyalurkannya melalui skema MBG.
Dengan skema tersebut, program MBG BUMDes Jawa Tengah diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Tetapi juga menciptakan rantai pasok pangan berbasis desa yang berkelanjutan dan memperkuat fondasi ekonomi nasional dari tingkat paling bawah. (Zul)






