Menyusuri Jejak Rimba di Pegunungan Wilis: Spesialisasi Mapala Arcapada Unisri Solo

Persiapan Matang Sebelum Masuk Rimba

BeritaWonogiri.com [TULUNGAGUNG] – Kelompok Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Slamet Riyadi Surakarta atau Mapala Arcapada Unisri sukses menggelar Kegiatan Spesialisasi bagi enam Anggota Muda. Para peserta terbagi ke dalam tiga divisi keahlian, yaitu Rock Climbing, Caving (Susur Goa), dan Gunung Hutan. Untuk Divisi Gunung Hutan, tim memilih kawasan menantang di Jawa Timur dengan menjelajahi Pegunungan Wilis, menempuh jalur lintas kabupaten dari Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung, hingga berakhir di Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri.

Penjelajahan berat ini berlangsung selama enam hari penuh, terhitung sejak Selasa, 9 Juni 2026 hingga Minggu, 14 Juni 2026. Tim Divisi Gunung Hutan sendiri digerakkan oleh dua Anggota Muda perempuan, yakni Salwa Sekar Ratri (18) dan Rahmawati (20). Selama di lapangan, mereka didampingi oleh dua mentor senior, Arifin Rahmat Setiawan (21) dan Muhammad Gamal Gany (20).

Ketua Pelaksana Spesialisasi Gunung Hutan, Salwa Sekar Ratri, menyampaikan bahwa operasional ini tidak didapat dengan instan. Pihaknya telah melakukan persiapan matang selama kurang lebih satu bulan sebelum pemberangkatan ke Jawa Timur.

“Persiapan tersebut meliputi latihan fisik untuk peningkatan stamina, pemantapan materi navigasi, pengurusan perizinan birokrasi, serta pengumpulan berbagai informasi sekunder terkait wilayah yang akan dijelajahi,” ujar Salwa.

Perjalanan dimulai dengan melewati aliran sungai dan jalan setapak di tengah ladang warga sebelum akhirnya memotong masuk ke kawasan hutan belantara. Selama penjelajahan, tim berhasil melintasi sejumlah puncak penting di Pegunungan Wilis, di antaranya Puncak Slurup, Puncak Wilis, Puncak Tumpok Cemoro, dan Puncak Tumpok Tembelang.

Medan yang dihadapi oleh tim Mapala Arcapada Unisri tergolong ekstrem dan bervariasi. Anggota Muda divisi ini dituntut untuk mempraktikkan langsung ilmu navigasi darat guna menembus vegetasi yang rapat dan menantang.

“Medan yang kami lalui sangat beragam, mulai dari punggungan yang menyerupai punggung naga, tanjakan dan turunan curam, hingga jalur yang diapit jurang di sisi kanan dan kiri,” kata Rahmawati menceritakan pengalamannya.

Ia menambahkan, pada beberapa titik kritis dengan kemiringan medan yang curam, tim harus menggunakan tali webbing sebagai alat bantu pengaman. Kondisi ini menuntut kewaspadaan, konsentrasi tinggi, serta kerja sama tim yang solid di sepanjang jalur lintas.

Penjelajahan di dalam kawasan Pegunungan Wilis menghabiskan waktu selama empat hari tiga malam. Selain kontur yang terjal, tim juga harus menghadapi rintangan medan bekas kebakaran hutan yang merusak jalur alami. Namun, berbekal peta, kompas, golok tebas, survival kit, serta keterampilan yang terlatih, tim berhasil keluar dari rimba dengan selamat.

Keberhasilan penjelajahan ini juga mendapat dukungan dari komunitas pecinta alam lokal. Selama berkegiatan, tim dibantu oleh rekan-rekan Mapala Himalaya UIN Sayid Ali Rahmatullah Tulungagung serta Mapala Senja Politeknik Negeri Malang (Kampus Kediri). (*)

Komentar