BeritaWonogiri.com [SUKOHARJO] – Inovasi pencegahan penyakit tidak melulu datang dari seminar formal. Jumat (30/12/25), Balai Desa Daleman, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, diramaikan oleh demo masak yang tidak biasa. Tujuh mahasiswa Prodi Kesehatan Masyarakat FKMIK Universitas Veteran Bangun Nusantara (UNIVET BANTARA) Sukoharjo, menggelar sosialisasi dan praktik memasak ‘Sup Kelor Rendah Garam’ bagi 27 ibu-ibu PKK setempat.
Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian Praktik Belajar Lapangan (PBL) 2 ini bertujuan sebagai upaya promotif dan preventif dalam mengatasi masalah kesehatan masyarakat, khususnya pencegahan hipertensi (tekanan darah tinggi) melalui intervensi pola makan sehat yang mudah dan murah.
Dipimpin oleh mahasiswa tertua, Wulan Ramadhany, kegiatan dirancang secara interaktif. Para peserta tidak hanya mendengarkan materi tentang bahaya kelebihan garam dan segudang manfaat daun kelor, tetapi juga terjun langsung praktik mengolahnya menjadi sup yang lezat dan bergizi.
Hasilnya pun terukur. Melalui metode pre-test dan post-test, terjadi peningkatan pengetahuan peserta yang sangat signifikan. “Dengan hasil pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan, dengan nilai rata-rata meningkat dari 31,48 menjadi 100,” jelas Wulan Ramadhany dengan penuh semangat.
Hal ini membuktikan bahwa pendekatan belajar sambil mempraktikkan (learning by doing) efektif untuk mengubah pemahaman masyarakat, terutama dalam konteks kesehatan.
Dalam pemaparannya, Wulan dan tim menjelaskan mengapa daun kelor (Moringa oleifera) yang dipilih sebagai bahan utama. Tumbuhan yang mudah ditemui ini ternyata menyimpan gizi yang luar biasa.
“Karena manfaat daun kelor dalam sup sangat banyak, di antaranya meningkatkan imun tubuh (vitamin C & antioksidan), melancarkan pencernaan (serat), menambah energi (zat besi & magnesium), serta menjadi sumber nutrisi lengkap bagi anak-anak dan ibu menyusui,” tambah Wulan.
Lebih lanjut, daun kelor disebutkan mengandung zat besi tinggi yang sangat bermanfaat untuk mencegah anemia dan mendukung tumbuh kembang anak, sehingga juga berkontribusi pada upaya pencegahan stunting. Dengan diolah menjadi sup, nutrisinya menjadi lebih mudah diserap tubuh dan cita rasanya lebih diterima seluruh keluarga.
Ketua PKK Desa Daleman, Siti Rohaya, mengapresiasi kegiatan yang digagas mahasiswa UNIVET BANTARA ini. Ia mengakui bahwa kegiatan ini membuka wawasan baru tentang pengolahan pangan lokal yang sehat.
“Kegiatannya menarik dan mudah dipraktikkan. Kami jadi tahu bahwa memasak rendah garam tidak harus mengurangi rasa, tapi justru lebih sehat,” ujar Siti Rohaya usai mengikuti acara.
Ia menambahkan, “Kami sangat mengapresiasi kegiatan yang digagas mahasiswa UNIVET ini. Edukasi seperti ini penting karena langsung mengajarkan cara mengolah bahan pangan bergizi. Antusiasme peserta terlihat jelas sepanjang kegiatan. Ibu-ibu kader PKK tidak hanya bersemangat mencoba membuat sup kelor.”
Antusiasme yang tinggi dari peserta selama sesi diskusi dan praktik menunjukkan bahwa edukasi gizi berbasis pangan lokal seperti ini memiliki potensi besar untuk diadopsi dan diterapkan secara berkelanjutan di tingkat rumah tangga.
Kegiatan PBL ini merupakan wujud nyata dari tri dharma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa tidak hanya menerapkan ilmu gizi dan promosi kesehatan yang dipelajari di kelas, tetapi juga belajar berkomunikasi dan memberdayakan masyarakat secara langsung.
Program pencegahan hipertensi melalui modifikasi diet rendah garam dan pemanfaatan kelor ini diharapkan dapat menjadi model intervensi sederhana yang bisa direplikasi oleh kader PKK atau posyandu di desa-desa lain. Dengan demikian, kontribusi kecil dari kampus dapat memberikan dampak yang riil dalam meningkatkan kesadaran dan perilaku hidup sehat masyarakat di tingkat akar rumput. (Begug SW)







Komentar