Masjid Al-Falah Sukoharjo Kaji KHGT untuk Persatuan Umat Islam

Tantangan dan Harapan Penerapan KHGT di Indonesia

BeritaWonogiri.com [SUKOHARJO] – KHGT Kalender Hijriyah Global Tunggal menjadi tema kajian yang digelar Masjid Al-Falah Madyorejo, Jetis, Sukoharjo, Ahad (29/3/2026) malam. Kajian ba’da Magrib mengawali bulan Syawal ini menghadirkan Ustadz Bimawan Syamsudin, S.P., yang memaparkan konsep kalender Islam tunggal untuk seluruh dunia.

Ketua Takmir Masjid Al-Falah Madyorejo Ir. H. Rudy Setyohadi melalui Bidang Dakwah dan Pendidikan Muh. Anis, S.Pd., menyampaikan bahwa kajian rutin Ahad sore ini mengambil tema strategis untuk mengedukasi jamaah tentang upaya penyatuan kalender hijriah global.

KHGT Solusi Akhiri Perbedaan Tanggal Hijriah di Dunia

Ustadz Bimawan Syamsudin menjelaskan bahwa KHGT merupakan sistem kalender Islam yang memberlakukan satu tanggal hijriah sama untuk seluruh dunia. Konsep satu dunia-satu hari-satu tanggal ini diharapkan mengakhiri perbedaan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha yang selama ini terjadi.

“Perbedaan awal bulan selama ini terjadi karena perbedaan metode antara rukyat lokal, hisab lokal, dan kriteria berbeda antar negara,” papar Ustadz Bimawan di hadapan jamaah.

Prinsip Satu Matla Global dan Imkanur Rukyat

KHGT menggunakan prinsip satu matla’ global atau wilayatul hukmi. Jika hilal terlihat di satu titik bumi, maka berlaku untuk seluruh dunia. Sistem ini menerapkan kriteria imkanur rukyat (kemungkinan terlihatnya hilal) yang disepakati secara ilmiah, bukan sekadar rukyat mata di tiap negara.

Dalil Syar’i dan Ilmiah Pendukung KHGT

Ustadz Bimawan memaparkan dasar pemikiran KHGT dari dua perspektif. Pertama, dalil syar’i dari hadis “Berpuasalah kalian karena melihat hilal, dan berbukalah karena melihat hilal” (HR. Bukhari Muslim) yang dipahami berlaku global, bukan lokal. Prinsip persatuan umat “umat Islam itu satu tubuh” juga menjadi landasan kuat.

Kedua, dalil ilmiah menunjukkan hisab astronomi modern sudah mampu memprediksi posisi hilal secara akurat. “Bumi itu satu, bulan juga satu, maka penanggalan mestinya satu,” tegasnya.

Perbedaan KHGT dengan Sistem Kalender Lokal

Pembicara membandingkan KHGT dengan sistem lokal seperti MABIMS. KHGT menggunakan matla’ global untuk seluruh dunia dengan kriteria imkanur rukyat global, menghasilkan satu tanggal sedunia. Sementara sistem lokal menggunakan matla’ per negara atau wilayah dengan kriteria imkanur rukyat lokal (2°/3°/8 jam), yang bisa menghasilkan tanggal berbeda antar negara.

Keutamaan KHGT meliputi mewujudkan persatuan umat Islam dalam ibadah, menghilangkan kebingungan perbedaan hari raya, memudahkan kalender global untuk pendidikan, haji, dan ekonomi syariah, serta menggabungkan hisab dan rukyat secara proporsional.

Tantangan dan Harapan Penerapan KHGT di Indonesia

Ustadz Bimawan mengakui tantangan penerapan KHGT. Saat ini baru 60 negara yang menerapkan KHGT. Banyak negara masih berpegang pada otoritas lokal dan perbedaan metode antara hisab versus rukyat murni masih menjadi kendala.

“KHGT bukan mengganti syariat, tapi metode penerapan syariat agar lebih maslahat dan menyatukan,” pungkasnya.

Ia menambahkan bahwa Muhammadiyah telah mengadopsi KHGT sejak 2024 dan diharapkan menjadi langkah menuju kalender Islam pemersatu dunia.

Usai pengajian, jamaah melanjutkan dengan salat Isya berjamaah. (Begug SW)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *