Gelombang Penolakan Pabrik Semen di Pracimantoro Menguat, Poster dan Spanduk Merebak

Muncul Paguyuban Baru Bernama ‘Rekso Suci’

BeritaWonogiri.com (WONOGIRI) – Gelombang penolakan pabrik semen di Desa Watangrejo, Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri ditengarai meningkat. Itu terlihat dr merebaknya poster dan spanduk spanduk baru di sejumlah titik di desa tersebut.

Warga penolak investasi semen ini kebanyakan berasal dari Desa Watangrejo di kawasan Ring 1 yang tanahnya akan digunakan sebagai tapak lokasi pendirian pabrik. Mereka mengatasnamakan Paguyuban Talijiwa.

“Hari ini terpasang lagi spanduk dan poster di 15 titik tersebar di Dusun Nglancing dan Ngelorejo (Desa Watangrejo)” ujar Jumadi, warga Watangrejo, Kamis, 15 Juni 2025.

Gerakan pemasangan spanduk dan poster tersebut dilakukan warga selang sehari setelah DPRD menggelar Rapat Dengar Pendapat dengan kelompok warga pendukung pabrik semen yang mengatasnamakan Paguyuban Cinta Pracimantoro.

“Saya diam-diam malah sudah memasang spanduk di pekarangan rumah,” timpal Slamet, juga warga Watangrejo.

Sinyal peningkatan gelombang penolakan pabrik semen juga ditengarai munculnya paguyuban baru di Desa Suci dengan nama Paguyuban Rekso Suci.

Sebelum Talijiwa, di Desa Wonoharjo hampir semua warganya juga menolak tegas pabrik semen dan telah mendeklarasikan Paguyuban Wonoharjo Lestari.

Ketiga paguyuban (Talijiwa, Wonoharjo Lestari dan Rekso Suci), sama-sama tidak menghendaki dibangunnya pabrik semen di Pracimantoro.

Warga memasang spanduk dan poster penolakan pabrik semen di wilayah Desa mereka. (Foto : Paguyuban Talijiwa)

Sekedar tahu, warga penolak pabrik semen di Pracimantoro mayoritas adalah pemilik lahan  yang tanahnya akan digunakan sebagai tapak lokasi pendirian pabrik.

Penolakan itu muncul karena pabrik seluas 123.315 hektare di Kecamatan Pracimantoro, tepatnya di Desa Watangrejo, Suci, dan Sambiroto itu mengancam lahan milik puluhan warga.

Padahal selama ini mereka menggantungkan hidup pada hasil tani di sana. Kendati telah mengantongi Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL), rencana pendirian pabrik itu menjadi polemik lantaran banyaknya kejanggalan selama proses perijinan dan pembuatan Amdal. (Irfandy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *