Mengenal Li LianJie, Aktor Laga Mandarin Populer dengan Nama Jet Li (Bagian 5)

Sampai kini film-filmnya masih digemari jutaan orang di dunia

BeritaWonogiri.com (BIOGRAFI) – Nama Li Lianjie, atau lebih dikenal sebagai Jet Li, pertama kali mencuri perhatian dunia sebagai jagoan bela diri setelah meraih gelar juara nasional Tiongkok dalam seni bela diri akrobatik wushu pada usia 11 tahun.

Dalam kejuaraan tersebut, Li tak hanya membawa pulang medali, tetapi juga mendapat kesempatan emas untuk melakukan perjalanan ke Washington D.C. guna bertemu Presiden Richard Nixon.

Dikutip dari laman situs IMDb, Jet Li mulai mengasah kemampuan wushu di Akademi Wushu Beijing sejak usia delapan tahun. Wushu, sebagai olahraga nasional Tiongkok, menggabungkan elemen seni pertunjukan dari berbagai gaya bela diri. Bagi Li, wushu bukan sekadar soal kekuatan atau kecepatan, melainkan tentang keharmonisan batin.

Namun, ia menyayangkan perkembangan wushu modern yang menurutnya lebih mengutamakan bentuk fisik ketimbang esensi sejati seorang seniman bela diri. “Wushu kini kehilangan individualitas, menjadi seperti mesin dalam ajang kompetisi,” ujarnya. Menurut Li, peraturan kompetisi baru justru membatasi kreativitas para seniman bela diri, menjauhkan wushu dari akarnya sebagai bentuk seni yang khas.

Pada 2009, Jet Li meluncurkan program kebugaran bernama Wuji, yang memadukan unsur wushu, yoga, dan pilates. Program ini bahkan menginspirasi Adidas untuk meluncurkan lini pakaian khusus dengan inisial “JL”.

Dua tahun kemudian, pada 2011, Li mendirikan Taiji Zen bersama Jack Ma, pendiri sekaligus ketua eksekutif Alibaba. Taiji Zen adalah perusahaan gaya hidup yang menyebarkan “Kesehatan dan Kebahagiaan untuk Semua” melalui perpaduan seni bela diri Taijiquan (T’ai Chi Chuan) dan praktik meditasi.

Program ini dikemas dalam berbagai kelas dan kursus daring yang mudah diakses. Di samping kesibukannya di dunia bela diri, Jet Li juga dikenal sebagai penganut Buddha yang taat.

Baginya, filosofi agama menjadi kunci untuk menghadapi tantangan hidup sehari-hari. “Ketenaran bukanlah sesuatu yang bisa kita kendalikan, jadi saya tidak mempedulikannya,” katanya. Komitmennya terhadap kemanusiaan juga terlihat dari perannya sebagai duta filantropi Palang Merah Tiongkok sejak 2006.

Ia menyumbangkan 500.000 yuan (sekitar US$62.500) dari pendapatan box office film Huo Yuan Jia untuk proyek kesehatan mental yang digagas Palang Merah. (Bersambung ke Bagian 6)

Komentar