STIM Surakarta dan Kemenag Perkuat Dakwah Damai, 100 Peserta Ikuti Bimtek

Tujuh Prinsip Dakwah yang Merangkul

BeritaWonogiri.com [SUKOHARJO] – Sekolah Tinggi Islam Al Mukmin (STIM) Surakarta bekerja sama dengan Kementerian Agama Republik Indonesia menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Dakwah Khusus untuk Penguatan Dakwah Damai, Selasa (13/10/2026). Kegiatan yang diikuti sekitar 100 peserta ini bertujuan memperkuat kompetensi dai agar mampu menyampaikan pesan Islam secara bijaksana, moderat, dan relevan dengan kehidupan masyarakat yang beragam.

Ketua STIM Surakarta, Dr. Zahrodin Fanani, M.P.I., menegaskan pentingnya dakwah yang berlandaskan ilmu, tanggung jawab, dan kearifan. Kegiatan tersebut dibuka secara simbolis oleh perwakilan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sukoharjo, Drs. H. M. Mualim, S.Pd.I.

Mantan Menteri Agama RI, Dr. K.H. Lukman Hakim Saifuddin, menjadi salah satu narasumber utama dengan menyampaikan materi moderasi beragama. Ia menekankan bahwa menghormati perbedaan bukan berarti mencampuradukkan keyakinan, melainkan membangun kehidupan bersama yang damai tanpa menghilangkan prinsip agama masing-masing.

Menurutnya, dai bertugas menyampaikan ajaran agama secara bijaksana, bukan memaksakan hidayah kepada orang lain. Sikap lapang dada, penghormatan terhadap perbedaan, dan kepedulian terhadap kemaslahatan bersama menjadi bagian penting dalam menjalankan dakwah di tengah masyarakat majemuk.

Materi berikutnya disampaikan Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama RI, Dr. H. Mukhlis Muhammad Hanafi, M.A. Ia mengingatkan pentingnya memahami teks keagamaan secara utuh dan kontekstual. Dalil, menurut materi yang disampaikan, tidak boleh dipotong dari konteksnya atau digunakan sekadar untuk membenarkan pandangan pribadi.

Sementara itu, Guru Besar Ilmu Ma’ani Hadis UIN Surakarta, Prof. Dr. H. Abdul Matin Salman, M.Ag., membahas hermeneutika hadis. Ia menekankan perlunya memperhatikan aspek sejarah, sanad, matan, dan makna agar pesan hadis tidak disalahpahami ketika diterapkan dalam kehidupan masa kini.

Dalam materi fikih dakwah, Dr. Zahrodin Fanani menegaskan bahwa dai perlu memahami kondisi masyarakat dan memilih metode komunikasi yang tepat. Dakwah yang baik tidak hanya berorientasi pada penyampaian pesan, tetapi juga memperhatikan cara pesan diterima dan dampaknya bagi kehidupan sosial.

Ia menyampaikan tujuh prinsip dakwah yang relevan bagi masyarakat majemuk, yakni mengajak, bukan mengejek; merangkul, bukan memukul; menyayangi, bukan menyaingi; mendidik, bukan membidik; membina, bukan menghina; mencari solusi, bukan sekadar mencari simpati; serta membela, bukan mencela.

Prinsip tersebut dinilai semakin penting di era digital. Media sosial dapat menjadi sarana menyebarkan kebaikan, tetapi juga menjadi ruang munculnya ujaran kebencian dan informasi keagamaan yang tidak terverifikasi.

Karena itu, dai dituntut memiliki kedalaman ilmu, kecakapan komunikasi, dan tanggung jawab dalam menyampaikan pesan kepada masyarakat. Pendekatan yang tepat diperlukan agar dakwah dapat diterima dengan baik tanpa mengabaikan prinsip agama yang disampaikan.

Melalui kegiatan ini, STIM Surakarta dan Kementerian Agama RI berharap para peserta mampu mengembangkan dakwah yang mencerahkan, memperkuat kerukunan, serta menjawab tantangan masyarakat modern.

Dakwah damai bukan berarti melemahkan keyakinan. Pendekatan ini meneguhkan iman melalui akhlak yang luhur, menyampaikan kebenaran tanpa merendahkan, serta mengajak kepada kebaikan tanpa menebar kebencian. (Nadhiroh)

Komentar