Beritawonogiri.com [SURAKARTA] – Dua dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Mulia Astuti (STAIMAS) Wonogiri aktif meningkatkan kompetensi melalui keikutsertaan dalam Workshop Pemetaan dan Penguatan Kurikulum Responsif Gender di Perguruan Tinggi. Acara yang digelar oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Raden Mas Said Surakarta, Kamis (23/10/2025), menjadi momentum penting untuk mendorong perubahan kurikulum yang inklusif dan setara.
Hadir pada agenda tersebut Kepala LPPM STAIMAS, Dr. Dewi Agustini, S.Sos., M.M., dan Ketua PSGA STAIMAS, Windari, S.H., M.H. Kedua perwakilan kampus ini mendapatkan berbagai materi mengenai strategi integrasi perspektif gender ke dalam desain dan pelaksanaan kurikulum. Workshop bertujuan agar kampus mampu mencegah stereotip, memastikan akses setara, dan menghasilkan lulusan yang peka terhadap kesetaraan sosial.

Kurikulum Responsif Gender sendiri adalah kerangka belajar yang menyadarkan seluruh sivitas akan pentingnya analisis gender, mulai dari perumusan tujuan pembelajaran hingga penilaian akhir. Implementasinya di Indonesia telah memiliki dasar hukum, seperti Permendiknas No. 84 Tahun 2008, serta pedoman operasional dari Kementerian Pendidikan dan KemenPPPA.
Windari, yang hadir sebagai Ketua PSGA, sangat bersyukur mendapat undangan workshop ini dan menegaskan komitmennya untuk mensosialisasikan pengetahuan baru bersama seluruh sivitas kampus setelah acara. “Kami berharap STAIMAS Wonogiri dapat meningkatkan kapasitas mengintegrasikan perspektif gender ke kurikulum dan menciptakan lingkungan pendidikan lebih inklusif dan setara,” tutur Windari.
Sementara itu, Dr. Dewi Agustini sebagai Kepala LPPM STAIMAS mengingatkan pentingnya hasil workshop segera ditindaklanjuti. Ia berharap seluruh dosen dapat memasukkan dan membangun kurikulum responsif gender yang berimbas langsung kepada mahasiswa, sehingga lulusan STAIMAS benar-benar memahami prinsip kesetaraan dalam kehidupan sosial dan dunia kerja.
Kegiatan ini diharapkan menjadi katalis bagi pengembangan budaya kampus yang lebih adil dan terbuka terhadap keberagaman. Dosen dan staf di lingkungan STAIMAS didorong untuk mengkaji ulang seluruh elemen pembelajaran agar peka terhadap isu-isu gender dan diskriminasi yang masih ditemukan di sebagian lingkungan pendidikan.
Implementasi kurikulum berbasis gender akan memperkaya kualitas pembelajaran dan meningkatkan daya saing lulusan di berbagai lini pekerjaan dan masyarakat. STAIMAS Wonogiri optimis dapat menjadi teladan regional dalam penerapan kurikulum responsif gender dan meneguhkan nilai-nilai inklusi sosial di dunia pendidikan tinggi.(*)







Komentar