Ekonomi Jawa Tengah Tembus 5,89%, Gubernur: Hasil Gotong Royong

Kontribusi Industri Capai 32,69% terhadap PDRB

BeritaWonogiri.com [SEMARANG] – Akselerasi Ekonomi Jawa Tengah pada triwulan I-2026 menunjukkan performa yang sangat impresif dengan mencatat pertumbuhan sebesar 5,89 persen secara tahunan (year on year/yoy). Capaian ini tidak hanya melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,61 persen, tetapi juga meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 4,96 persen.

Kinerja gemilang ini menjadi sinyal kuat bahwa aktivitas ekonomi di wilayah jantung Pulau Jawa ini semakin solid sejak awal tahun. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Tengah atas dasar harga berlaku mencapai Rp 511,99 triliun, sementara atas dasar harga konstan 2010 menyentuh angka Rp 315,73 triliun.

Industri dan Pertanian Jadi Motor Penggerak Utama

Kepala BPS Jawa Tengah, Ali Said, mengungkapkan bahwa sektor industri pengolahan tetap berdiri kokoh sebagai fondasi utama ekonomi dengan kontribusi mencapai 32,69 persen terhadap PDRB. Meski pertumbuhannya berada di angka moderat 4,04 persen, industri tetap menjadi tulang punggung yang menjaga stabilitas ekonomi daerah.

“Angka pertumbuhan ini menunjukkan bahwa industri tetap menjadi tulang punggung, namun dorongan pertumbuhan mulai menyebar ke sektor-sektor berbasis jasa dan mobilitas,” ujar Ali Said dalam keterangan resminya.

Menariknya, dari sisi kuartalan (q-to-q), ekonomi Jawa Tengah tumbuh 1,85 persen dibandingkan triwulan IV-2025. Lonjakan ini dipicu oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang meroket hingga 21,53 persen. Kenaikan drastis tersebut terjadi seiring datangnya musim panen raya dan peningkatan produksi pangan di berbagai wilayah lumbung padi Jawa Tengah.

Investasi Rp 23,02 Triliun dan Serapan Tenaga Kerja Masif

Sinergi ekonomi ini semakin kuat dengan tingginya kepercayaan investor global. Pada triwulan I-2026, realisasi investasi Jawa Tengah berhasil menembus angka Rp 23,02 triliun. Angka ini mencakup 23,23 persen dari total target tahunan yang dipatok sebesar Rp 99,09 triliun.

Komposisi modal asing (PMA) masih mendominasi dengan nilai Rp 12,98 triliun (56,40%), disusul penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 10,04 triliun (43,60%). Aliran modal tersebut mengucur deras ke 24.957 proyek, terutama di sektor industri karet, plastik, mesin, elektronik, serta tekstil dan alas kaki.

Dampak nyatanya pun langsung dirasakan masyarakat melalui penyerapan tenaga kerja yang mencapai 92.000 orang. Investor dari Singapura, Hong Kong, Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan tercatat sebagai pemain utama yang menanamkan modalnya di Jawa Tengah.

Ahmad Luthfi: Hasil Gotong Royong Lintas Sektor

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyambut baik capaian pertumbuhan ekonomi 5,89 persen ini sebagai buah dari kerja keras kolektif. Menurutnya, stabilitas dan kondusivitas wilayah menjadi kunci utama mengapa investor berbondong-bondong masuk ke Jawa Tengah.

“Alhamdulillah, pertumbuhan ini menunjukkan arah yang semakin baik. Ini bukan kerja satu pihak, tapi hasil gotong royong dan kolaborasi semua elemen, mulai dari pemerintah pusat, daerah, dunia usaha, hingga akademisi,” tegas Ahmad Luthfi.

Ia berkomitmen untuk terus menjaga iklim investasi agar tetap kondusif. Pihaknya berjanji akan mengawal agar pertumbuhan ekonomi tidak sekadar angka di atas kertas, namun benar-benar inklusif dan dirasakan langsung manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat di Jawa Tengah. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *