Anak Sering Berdalih Privasi? Guru SMK Pancasila Baturetno Ungkap Pentingnya Cek HP Anak

Menjadikan Gadget sebagai Jembatan Diskusi

BeritaWonogiri.com [BATURETNO] – Momen pembagian rapor bagi siswa tingkat SMA/SMK sederajat se-Provinsi Jawa Tengah menjadi ajang penyampaian pesan edukasi penting bagi para orang tua. Guru Wali Kelas SMK Pancasila 4 Baturetno, Susi Muryani, S.Pd.I, menegaskan bahwa orang tua memiliki hak penuh untuk membuka handphone anak mereka.

Pesan mendalam tersebut Susi sampaikan langsung kepada orang tua atau wali murid di sela-sela kegiatan pembagian rapor kelas. Ia menggarisbawahi bahwa selama orang tua masih membiayai fasilitas komunikasi tersebut, keterbukaan akses gadget menjadi sebuah konsekuensi yang logis.

Menurut Susi, anak-anak zaman sekarang sering kali menggunakan alasan privasi untuk menghindari pengawasan. Baginya, privasi memang sebuah hak, namun memberikan perlindungan terhadap masa depan anak adalah kewajiban utama yang melekat pada orang tua.

Langkah preventif ini bukan tanpa alasan kuat. Susi membeberkan fakta bahwa banyak kasus negatif pada remaja yang baru terungkap setelah orang tua memberanikan diri untuk memeriksa isi gawai anak-anak mereka.

Berbagai temuan fatal tersebut meliputi kepemilikan konten tidak pantas, percakapan terselubung dengan orang asing, aksi cyberbullying, hingga kecanduan akut terhadap konten destruktif. Susi juga mengingatkan para orang tua agar tidak lengah terhadap perubahan perilaku anak di rumah.

“Anak yang diam di kamar belum tentu sedang belajar,” tegas Susi dalam pesan tertulisnya di Wonogiri, Jumat, 19 Juni 2026.

Susi mengibaratkan kata sandi atau password gawai bukan sebagai tembok pemisah hubungan keluarga. Sandi tersebut harus menjadi pintu yang dapat dibuka oleh orang tua kapan saja secara bijak demi tujuan melindungi, bukan mengintai.

Ia membagikan tips praktis bagi orang tua dalam menerapkan pengawasan ini. Caranya adalah dengan membuat kesepakatan tertulis sejak awal kepemilikan gawai, lalu melakukan pemeriksaan dengan pendekatan yang santai tanpa kesan interogasi.

Selanjutnya, orang tua wajib menjadikan setiap temuan di dalam gawai sebagai bahan diskusi yang sehat. Susi meminta orang tua tidak menggunakan informasi tersebut sebagai senjata penghakiman yang justru menjauhkan hubungan emosional dengan anak. (Beni)

Komentar