Ekspor Perdana Kunyit Kering dari Wonogiri Tembus Pasar Timur Tengah

Kolaborasi eksportir dan petani lokal membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat Jatiroto.

BeritaWonogiri.com [JATIROTO] – Kabupaten Wonogiri kembali mencatatkan langkah positif dalam sektor pertanian dan perdagangan internasional. Ekspor perdana kunyit kering dari Desa Mojopuro, Kecamatan Jatiroto, resmi diluncurkan pada Senin (15/6/2026), menandai terbukanya akses pasar global bagi hasil bumi petani lokal menuju kawasan Timur Tengah, khususnya Dubai dan Arab Saudi.

Peluncuran pengiriman ekspor tersebut diprakarsai oleh eksportir asal Kecamatan Jatiroto, Edi Martani, yang selama ini aktif membangun kemitraan dengan para petani setempat dalam budidaya dan pemasaran kunyit. Pada pengiriman perdana ini, satu truk kunyit kering diberangkatkan sebagai langkah awal memenuhi kebutuhan pasar internasional yang terus meningkat.

Edi Martani mengungkapkan bahwa permintaan kunyit kering dari pasar Timur Tengah sebenarnya cukup besar. Bahkan, kebutuhan yang diterimanya mencapai sekitar 120 ton per tahun.

“Untuk tahap awal kami menggandeng Pemerintah Desa Mojopuro untuk bekerja sama. Alhamdulillah launching perdana pengiriman kunyit kering hari ini dapat terlaksana. Satu truk kunyit kering berhasil kami kirim sebagai langkah awal,” ujar Edi saat acara launching.

Menurutnya, ekspor kunyit kering menjadi peluang besar bagi petani Wonogiri untuk meningkatkan nilai jual hasil pertanian. Ia optimistis target pemenuhan permintaan hingga 120 ton per tahun dapat dicapai melalui perluasan kemitraan dengan petani di wilayah Jatiroto dan sekitarnya.

“Sementara ini kami fokus pada ekspor kunyit kering. Semoga ke depan mampu memenuhi kebutuhan pasar sekitar 120 ton per tahun. Apabila produksi lokal belum mencukupi, kami juga akan menjalin kerja sama dengan eksportir kunyit kering lainnya di Jawa Tengah,” tambahnya.

Acara launching yang digelar di Desa Mojopuro tersebut dihadiri oleh jajaran Forkopimcam Jatiroto, para petani, tokoh masyarakat, serta perangkat desa. Kehadiran berbagai elemen masyarakat menunjukkan dukungan kuat terhadap pengembangan sektor pertanian berbasis ekspor di wilayah tersebut.

Dalam sambutannya, Camat Jatiroto, Miran, S.Sos., M.M., menyampaikan apresiasi atas terwujudnya ekspor perdana kunyit kering yang dinilai mampu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pedesaan.

“Alhamdulillah ada Pak Edi Martani yang menjadi jembatan untuk mengangkat potensi petani Mojopuro dan sekitarnya. Kami dari Pemerintah Kecamatan Jatiroto sangat mengapresiasi launching perdana pengiriman kunyit kering ini. Semoga dari tahun ke tahun produksi dan pemasaran kunyit kering di Jatiroto semakin berkembang,” kata Miran.

Tidak hanya kunyit, Pemerintah Kecamatan Jatiroto juga tengah mendorong pengembangan komoditas unggulan lainnya. Salah satunya adalah Kopi Arabika Brenggolo yang saat ini masih dalam tahap penjajakan pasar.

“Selanjutnya kami juga akan mencoba memasarkan Kopi Arabika Brenggolo. Saat ini masih dalam proses pengenalan pasar dengan mengirim beberapa sampel ke berbagai daerah di Indonesia,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Mojopuro, Kasmo Goma, menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam mewujudkan ekspor perdana tersebut. Menurutnya, keberhasilan ini menjadi momentum penting bagi petani desa untuk semakin bersemangat meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi.

Ia berharap kerja sama antara petani, pemerintah, dan pelaku usaha dapat terus diperkuat sehingga hasil pertanian Mojopuro mampu bersaing di pasar internasional secara berkelanjutan.

Ekspor perdana kunyit kering ke Dubai ini menjadi bukti bahwa komoditas pertanian lokal Wonogiri memiliki daya saing tinggi di pasar global. Dengan dukungan pemerintah, kemitraan yang kuat antara petani dan eksportir, serta meningkatnya permintaan internasional, Jatiroto berpeluang menjadi salah satu sentra produksi kunyit kering berorientasi ekspor di Jawa Tengah.

Keberhasilan ini sekaligus membuka harapan baru bagi peningkatan kesejahteraan petani dan pertumbuhan ekonomi daerah melalui optimalisasi potensi hasil bumi lokal yang bernilai ekspor tinggi. (Setyo Nugroho)

Komentar