BeritaWonogiri.com [KARANGANYAR] – Memperingati hari ulang tahun (HUT) ke-20 CV Grafika Gunung Emas dengan brand Gage Design melakukan bakti social (baksos) ke berbagai tempat. Di antaranya baksos dilakukan ke Panti Rehabilitasi Jati Adulam Ministry, Joyotakan, Solo, Jateng, kunjungan ke Yayasan Assalaam Sukoharjo, Baznas Solo dan Griya PMI Peduli.
“Tadi kami berkunjung ke Panti Rehabilitasi Jati Adulam Ministry, Joyotakan untuk berbagi nasi dan makan bareng-bareng. Karena sebagian rezeki kami adalah dari doa-doa mereka. Tujuan utama kami dengan kegiatan ini hanya ingin memotivasi teman-teman,” ujar Pendiri Gage Design, Bambang “Gage” Nugroho ketika memberi keterangan kepada media di Spesial Soto Boyolali di Blulukan, Colomadu, Karanganyar, Jateng, Kamis 7 Maret 2024.
Bambang yang sudah tak asing di lingkungan kelompok asosiasi profesi maupun keahlian ini mengajak rekan-rekannya semangat. Karena itu dia minimal ingin memotivasi kawan-kawan yang lain untuk fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan.
Baca juga: Baksos Trail Tawon Setan Kumpulkan Dana untuk Pembangunan Pondok Pesantren Ikhlasul Murtadho
Dia berharap teman-temannya melakukan hal yang sama karena sebagian dari rezeki yang diperoleh dinilai hak orang lain. Kalau di kalangan muslem harta yang dimiliki ada ketentuan dikeluarkan zakat minimal 2,5 persen.
Kalau masing-masing pihak melakukan hal yang sama, kata dia, bisa memberi kemanfaatan bagi orang lain. Syukur mereka mempunyai ide-ide sehingga bisa membantu masyarakat di sekitar.
“Tentu harapan saya teman-teman di kantor mereka akan mengerti merasakan ketika berbagi dengan orang lain itu ada yang senyum, bersyukur, pas lapar dan sebagainya. Beda ya laparnya orang berpuasa begitu beduk terus makan. Tapi kalau laparnya orang yang tidak punya duwit, ini masalah,” katanya.
Karena itu pihaknya bersama anak buah mengajak kunjungan ke panti rehabilitasi agar tahu rasanya. Sehingga suatu saat jika mereka mempunyai rezeki akan menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu orang lain.

Bambang mengaku terenyuh saat berkunjung ke panti rehabilitasi. “Kita diberi nikmat, sehat, kuat. Sehat tanpa obat, seger tanpa dokter, awak lemu [gemuk] tanpa jamu. Ini kan suatu nikmat yang luar biasa. Diberi kekuatan diberikan kemudahan kelancaran berusaha, bekerja. Syukur alhamdulillah semua peerjaan bisa diselesaikan terutama pekerjaan besar kemarin. Negara melakukan pesta, sehingga kita juga harus berbagi rezeki kita kepada orang lain,” kata dia.
Gage Berdiri 7 Maret 2004
Lebih lanjut dia mengungkapkan, Gage bisa diartikan Grafika Gunung Emas, bisa juga dalam Bahasa Jawa berarti bersegera. Dalam Bahasa Belanda bisa berarti upah, sebab Gage dalam Bahasa Belanda dibaca geji, artinya upah.
Dia mengisahkan sejarah atau riwayat perusahaannya diawali dengan sederhana dan kerja keras. Dulu awalnya berjualan desain di Solo sulit sehingga orang disuruh membayar desain susah. Untuk menyiasatinya pihaknya membuat paket cetak.
Bambang mengatakan Gage berdiri 7 Maret 2004 dan diharapkan anak cucunya kelak bisa meneruskan. Dia menilai bisnis di bidang grafika tak ada habisnya. Bisa diawali dari desain, spanduk, terutama poster, leaflet dan buku.
Tahun 2012 Gage masuk ke digital printing. Dulu tukang gambar baliho di suatu perusahaan disuruh menggambar enam wajah manusia, bisa terjadi penurunan kualitas. Misalnya disuruh menggambar Krisye, gambar nomor satu, dua dan tiga wajahnya mungkin masih sama. Tapi berikutnya nomor empat dan lima bisa sudah berubah menjadi Jet Li, Andy Lau dan sebagainya.

Namun begitu masuk ke digital printing orang harus menyikapi perubahan dengan cepat. Karena itu mereka yang masih belum memakai digital printing dinilai akan berat untuk menyesuaikan.
Dalam hal ini pihaknya menyatakan bisa sedikit mengikuti teknologi baru dengan menambah mesin, nambah SDM dan sebagainya. “Saat ini jumlah karyawan di perusahaan ada 26 orang, saat awal berdiri tiga orang,” ungkap Bambang.
Tahun 2008 saat pilgub dia ketemu dengan para koleganya mereka menyarankan agar dirinya tak hanya menggarap desain saja tapi harus mulai produksi. Ketika itu salah satu pasangan calon menyerahkan pencetakan MMT diserahkan ke perusahaannya.
Tapi karena belum mempunyai banyak modal dia bekerja sama dengan temannya bikin digital printing. Hanya saja karena mendadak temannya kena masalah maka mesin digital printing dijual. Karena itu ketika pemilihan bupati Karanganyar dia nekat membeli mesin digital printing.
Sementara itu orang kepercayaan Bambang bernama Joko Purwanto menambahkan Bambang bukan sekadar owner tapi seperti kakak. Jadi karyawan kita bisa belajar dari hulu sampai ke hilir karena Bambang memberi kesempatan dan mentor bagi semua karyawan.
“Mau belajar produksi, administrasi mau apapun semua bisa didapat. Dan Pak Bambang juga mengajari semua walaupun kita sebagai pekerja. Kami diberi kebebasan mengembangkan kreativitas dan tidak dilarang,” kata dia yang juga manajer perusahaan.
Dia mejelaskan kalau di Gage, Bambang meminta harus mejadi karyawan yang luar biasa. Dengan demikian ketika keluar dari Gage mendapat ilmu banyak sehingga menjadi entrepreneur bukan mmenjadi karyawan lagi.
Di bagian lain Direktur Pondok Pesantren Assalaam, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Jateng, Suripto M Yunus mengucapkan terima kasih atas sumbangan uang yang diberikan. Dia mendoakan perusahaan Bambang yang mendonasikan Rp20 juta untuk pembangunan masjid di Gunungkidul bisa menjadi lebih baik dan menjadi lebih besar lagi.
“Insya Allah ini akan berkah untuk kita semua. Usaha antum insya Allah akan ngrembaka,” kata dia.
Bambang mengucapkan terima kasih diberi kesempatn ikut menyelesaikan pembangunan mmasjid di kawasan wisata di Tepus, Gunung Kidul, DIY. “Semoga masjid yang dibangun di tanah seluas 1.000 meter lebih dan dilengkapi tempat parkir ini bermanfaat,” kata dia. (Iskandar)






