BeritaWonogiri.com[WONOGIRI] – Seiring perkembangan transportasi, angkutan massal di semua daerah terdegradasi kendaraan pribadi. Angkutan umum dalam kota dan AKDP (Antar Kota Dalam Provinsi) pun berangsur sepi.
Tak terkecuali di Kabupaten Wonogiri yang dulu dikenal banyak juragan bus, kini jumlah armadanya saja bisa dihitung jari.
Penyebab utamanya hampir sama, karena jumlah penumpang semakin berkurang. Imbasnya, biaya operasional para pengusaha bus jadi ‘lebih besar pasak dari pada tiang’.
“Kalau biaya operasional selalu lebih besar daripada pengeluaran, akhirnya kan gulung tikar,” ungkap Agung, mantan pengusaha bus di Wonogiri.
Mungkin generasi 1970 – 80-an masih ingat, angkutan massal saat itu, menjadi primadona masyarakat. Angkutan umum dan bus-bus berlalu lalang di jalan raya hampir tanpa saingan.
Untuk bepergian, masyarakat rela berdesak-desakan bahkan bergelantungan, sampai grup musik legendaris ‘Godbles’ pun membuat lagu ‘Bis Kota’ yang menggambarkan kondisi saat itu.
Di Wonogiri sendiri, juragan bus bertebaran dari ujung timur, tenggara hingga ujung selatan. Selain angkutan kota dan bus mini, beberapa perusahaan otobus (PO) AKDP, saat itu banyak di Wonogiri.
Di antaranya PO Giri Indah, Purwo Widodo, Joko Muda, Estu Putera, Serba Mulya, Jadi Mulya, Chandra Rin, Jelita, Putera Mulya, Tunggal Dara, Timbul Jaya, PO Ismo, Bunga Indah, dan masih banyak lagi yang menjadi pelaku penting dalam moda tranportasi di Wonogiri.
Kini kejayaan mereka telah redup. Para juragan transportasi yang dulu jaya dan dipandang punya status sosial sangat tinggi, sekarang entah bagaimana kabarnya setelah usaha jasa angkutan tak lagi menjanjikan.
Kondisi tersebut makin memuncak pada 2020, saat dunia dihantam pandemi Covid-19. Berbagai pembatasan diberlakukan Pemerintah.
Larangan bepergian diterapkan sangat ketat oleh aparat berwenang. Para pemilik armada termasuk bus angkutan umum pun tak bisa berbuat banyak, selain mengikuti aturan.
Kegiatan bepergian sangat jarang, jalanan benar-benar sepi penumpang. Badai corona dua tahun itulah klimaks dari redupnya eksistensi angkutan umum.
Kondisi ini mengakibatkan pendapatan para awak angkutan umum turun drastis. Bahkan, mereka kerap pulang tidak membawa uang.
“Sekarang kondisi jasa transportasi lesu. Penumpang sepi, cari 10 orang penumpang saja susah. Ya, kami tidak ada pemasukan,” kata seorang kenek bus AKDP jurusan Solo- Purwantoro, saat ngetem di Shelter Wonogiri, Rabu, 6 Mei 2025 lalu.
Dituturkan, kondisi penumpang saat ini dalam perjalanan Solo- Purwantoro pulang pergi untuk biaya operasional saja terkadang tidak mencukupi.
Tapi kenek tersebut mengatakan hanya bisa pasrah menghadapi kondisi yang semakin tidak menguntungkan.
Bagaimanapun juga, dirinya harus tetap bekerja demi anak isteri di samping melayani masyarakat yang masih membutuhkan jasa transportasi.
“Ya mau bagaimana lagi. Meski kadang pulang kerja tidak mendapatkan hasil, ya tetap bekerja. Sebab perusahaan meminta saya untuk tetap berangkat,” ujarnya.
Harus diakui, saat ini jarang sekali masyarakat jalan kaki. Karena hampir tiap keluarga memiliki kendaraan pribadi, sepeda motor maupun mobil.
Kemajuan teknologi transportasi dan kemudahan komunikasi berdampak besar pada pola hidup masyarakat.
Tak bisa dipungkiri, di samping faktor kepemilikan alat transportasi pribadi, bisnis angkutan masal juga terdesak transportasi digital seperti munculnya Ojek Online (Ojol), dan jasa transportasi berbasis aplikasi.
Para penumpang yang dulu tiap hari datang ke terminal atau menunggu bus-bus kesayangan mereka, kini telah diganti generasi berbeda dengan latar belakang ekonomi dan pola hidup yang berbeda pula. (Irfandy)






