Luwes dan Ceria! 12 Siswa SDN 1 Wuryantoro Tampil Memukau di Sriwedari

Dipersiapkan untuk FLS3N dan Lomba Seni Tari

BeritaWonogiri.com [SURAKARTA] – Panggung megah Gedung Wayang Orang Sriwedari mendadak terasa berbeda, Jumat malam (23/1/2026). Bukan seniman profesional yang tampil, melainkan 12 siswa SDN 1 Wuryantoro yang dengan penuh percaya diri membawakan Tari Semarang Rumah Kita dan Tari Burung Nuri. Luwes, ceria, dan penuh semangat—penampilan anak-anak ini sukses mencuri perhatian penonton sejak menit pertama.

Dalam balutan kostum berwarna cerah, para siswa tampil sebagai pengisi pra pertunjukan Wayang Orang Sriwedari yang digelar Pemerintah Kota Surakarta. Meski masih usia sekolah dasar, kualitas gerak dan ekspresi mereka tak bisa dipandang sebelah mata.

Sebanyak 12 siswa SDN 1 Wuryantoro tampil kompak di salah satu panggung seni paling prestisius di Jawa Tengah. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa seni tradisi masih hidup dan tumbuh di tangan generasi muda.

Penampilan dibuka dengan Tari Semarang Rumah Kita yang dibawakan oleh tujuh penari perempuan. Tarian ini menggambarkan keindahan Kota Semarang sebagai kota pesisir yang damai, terbuka, dan kaya destinasi wisata.

Gerakan lembut namun dinamis menggambarkan keramahan dan semangat kebersamaan. Ekspresi ceria para penari membuat pesan tarian tersampaikan dengan kuat, sekaligus memikat penonton yang memadati Gedung Sriwedari sejak pukul 19.30 WIB.

Tak lama berselang, panggung kembali hidup lewat Tari Burung Nuri.

Dibawakan oleh lima penari, Tari Burung Nuri menampilkan gerak kepak tangan yang membuka dan menutup menyerupai sayap burung yang sedang terbang. Gerakannya lincah, cepat, dan penuh keceriaan—sangat selaras dengan karakter anak-anak seusia mereka.

Kepala SDN 1 Wuryantoro, Dwi Rohani, S.Pd.I, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Ia menilai keberanian siswa tampil di panggung tingkat karesidenan merupakan pencapaian luar biasa.

“Di era digital ini, anak-anak masih mau melestarikan budaya yang hampir ditinggalkan,” ujar Dwi Rohani.

Menurutnya, pengenalan seni tari bukan sekadar aktivitas ekstrakurikuler, tetapi bagian dari pembentukan karakter, rasa percaya diri, dan kecintaan terhadap budaya Jawa, khususnya Jawa Tengah.

Pihak sekolah memberikan dukungan penuh dengan menghadirkan guru pendamping khusus ekstrakurikuler tari. Tak hanya itu, peran orang tua juga sangat besar, baik dari sisi moral maupun materiil.

Latihan rutin dilakukan setiap Sabtu pukul 07.30–08.30 WIB di sekolah. Bahkan, menjelang pentas, para siswa kerap berlatih tambahan di rumah pelatih pada sore hari.

Guru pendamping ekstrakurikuler tari, Erna Ratna Ningsih, menjelaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi bagian dari persiapan mengikuti Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) serta berbagai lomba seni tari lainnya.

“Kami ingin anak-anak siap mental, disiplin, dan percaya diri saat tampil di mana pun,” ungkap Erna.

Di bawah bimbingan pelatih tari Sri Mulyani, para siswa tidak hanya diajarkan teknik gerak, tetapi juga nilai disiplin dan keseriusan dalam berkarya.

“Anak-anak harus pede dalam perform-nya. Mereka sedang tumbuh dan perlu mengenal serta mempertahankan budaya lokal,” tegas Sri Mulyani.

Penampilan 12 siswa SDN 1 Wuryantoro di Taman Sriwedari menjadi simbol harapan. Di tengah gempuran gawai dan budaya instan, seni tari justru menjadi ruang sehat bagi anak-anak untuk berekspresi, bergerak, dan mencintai warisan budaya bangsa.

Dari panggung Sriwedari, pesan itu bergema jelas: budaya Jawa masih hidup—dan masa depannya sedang menari dengan riang. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *