Dinas PUPR Jateng Targetkan Pembetonan Jalan Jepara-Keling dan Box Culvert Rampung 25 Desember 2026

Tantangan Cuaca dalam Pengecoran

BeritaWonogiri.com [JEPARA] – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membangun jalan beton di ruas Jalan Jepara-Keling, Kabupaten Jepara, sepanjang sekitar 3,3 kilometer pada 2026. Pekerjaan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) ini juga memperlebar badan jalan untuk meningkatkan kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan.

Jalan tersebut merupakan jalur alternatif Jepara-Pati melalui Tayu. Peningkatan ini diharapkan turut mendukung kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat.

Pengawas Jalan dan Jembatan Dinas PUPR Provinsi Jawa Tengah, Akasio Da Assuncao, mengatakan peningkatan jalan dilaksanakan melalui dua paket, yakni paket reguler dan paket tambahan atau perkada.

Paket reguler menangani 930 meter dengan nilai kontrak sekitar Rp7 miliar. Pekerjaan dimulai 29 Juni 2026 dan ditargetkan selesai 25 Desember 2026.

Paket perkada menangani 2,4 kilometer dalam tiga segmen. Segmen pertama sepanjang 1,4 kilometer, segmen kedua berupa pembangunan box culvert, dan segmen ketiga sepanjang 900 meter. Total penanganan kedua paket sekitar 3,3 kilometer, seluruhnya memakai konstruksi beton (rigid pavement).

“Paket reguler dan paket perkada ini totalnya sekitar 3,3 kilometer. Semuanya beton. Harus selesai tahun ini, termasuk pekerjaan box culvert,” jelas Akasio, Selasa, 3 November 2026.

Selain konstruksi, badan jalan dilebarkan. Sebelumnya lebar jalan di sejumlah titik 5,8 hingga 6,8 meter. Setelah ditingkatkan, badan jalan ditargetkan 7,5 meter dengan bahu jalan masing-masing satu meter di kedua sisi, sehingga total lebar sekitar 9,5 meter.

Menurut Akasio, peningkatan diperlukan karena jalan sudah lama digunakan dan kondisinya menurun akibat lalu lintas harian.

“Dengan badan jalan yang lebih lebar dan konstruksi beton, harapannya masyarakat lebih nyaman melintas, dan kegiatan perekonomian bisa berjalan lebih lancar,” terangnya.

Akasio menyebut pekerjaan menghadapi tantangan cuaca ekstrem karena pengecoran beton harus memperhitungkan temperatur udara. Waktu pengecoran disesuaikan dengan kondisi cuaca agar sesuai ketentuan teknis.

Iis Putri Permatasari, warga Bangsri yang setiap hari melewati jalur itu untuk bekerja, mengaku merasakan perbedaan setelah jalan mulai dibeton. Sebelumnya ia harus berhati-hati karena jalan bergelombang dan berlubang, dan kerap takut melintas pada malam hari.

“Dulu ya rusak, jeglong-jeglong. Membahayakan, sering ada kecelakaan juga kalau malam. Kalau musim hujan lubangnya tertutup air, jadi tidak kelihatan. Sekarang alhamdulillah sekarang sudah diperbaiki,” kata Iis.

Sunaryo, warga Mlonggo yang tinggal di kawasan itu sejak 1995, mengatakan jalan di wilayahnya selama puluhan tahun hanya mengalami tambal sulam.

“Sejak saya masuk sini tahun 1995, belum pernah ada jalan sebagus ini. Dulu tambal sulam terus. Sudah sekitar 25 tahun kondisinya seperti itu. Sekarang ya nyaman, rakyat banyak yang senang,” ungkap Sunaryo.

Menurut Sunaryo, kondisi jalan yang membaik dinilai dapat meningkatkan nilai tanah di sekitarnya.

“Selain nyaman dan aman, ekonomi juga meningkat,” pungkasnya. (*)

Komentar