BeritaWonogiri.com [SELOGIRI] – Dusun Nglaroh, Desa Pule, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, menyimpan jejak sejarah penting dalam perjalanan perjuangan Raden Mas Said, tokoh besar yang kelak dikenal sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegoro I. Dusun kecil di lereng perbukitan Wonogiri ini bukan sekadar tempat persinggahan, melainkan menjadi basis perjuangan Raden Mas Said dalam melawan dominasi Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) pada abad ke-18.
Kata kunci “Dusun Nglaroh Basis Perjuangan Raden Mas Said” menjadi pengikat utama dalam kisah panjang perlawanan terhadap kolonialisme, sekaligus menghubungkan sejarah lokal Wonogiri dengan dinamika politik Jawa pada masa Kerajaan Mataram Islam.
Raden Mas Said lahir pada 7 April 1725 dari pasangan Pangeran Arya Mangkunegoro dan R.R. Wulan. Ayahnya merupakan putra tertua Sunan Amangkurat IV, Raja Kasultanan Kartasura, sekaligus kakak dari Sunan Pakubuwono II. Secara garis keturunan, Raden Mas Said memiliki legitimasi kuat sebagai bangsawan keraton.
Namun, kehidupan yang dijalaninya jauh dari kemewahan istana.
Ibunda Raden Mas Said wafat saat ia baru berusia tiga tahun. Sejak kecil, ia bersama dua adiknya—Raden Mas Sabar dan Raden Mas Ambya—menjalani kehidupan keras yang tidak mencerminkan status anak pangeran. Pendidikan istana nyaris tak mereka rasakan. Bahkan, makan, minum, dan tidur kerap dilakukan layaknya abdi dalem.
Tak jarang, Raden Mas Said harus tidur di kandang kuda. Pola hidup inilah yang kelak membentuk kepribadiannya menjadi pemimpin yang dekat dengan rakyat kecil.
Pangeran Arya Mangkunegoro, ayah Raden Mas Said, dianggap melakukan kesalahan politik di keraton. Ia dituduh membangkang karena berpihak pada Pangeran Purboyo yang melakukan perlawanan terhadap VOC. Akibatnya, ia dibuang hingga ke Ceylon (Sri Lanka) dan kemudian ke Afrika Selatan.
VOC dipandang sebagai kekuatan asing yang memanfaatkan konflik internal Keraton Kartasura. Kebencian sang ayah terhadap VOC diwariskan secara ideologis kepada Raden Mas Said.
Perbedaan pandangan politik membuat Raden Mas Said tidak sejalan dengan Sunan Pakubuwono II. Ketidakadilan yang ia alami sejak kecil memperkuat tekadnya meninggalkan Keraton Kartasura dan memilih jalan perlawanan.
Raden Mas Said kemudian menuju Dusun Nglaroh, daerah asal neneknya, Raden Ayu Sumanarsa. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Selain memiliki ikatan genealogis, Nglaroh merupakan wilayah strategis yang jauh dari pusat kekuasaan VOC.
Dalam perjalanannya ke Nglaroh, Raden Mas Said tidak sendirian. Ia ditemani dua sahabat setia yang kelak menjadi pimpinan pasukan inti, yakni Panji Kudanawarsa dan Rangga Panambangan.
Di Nglaroh, Raden Mas Said menyatu dengan rakyat, membangun organisasi pemerintahan sederhana, serta menghimpun dukungan masyarakat Wonogiri untuk melawan VOC.
Tercatat sekitar 40 prajurit pilihan berkumpul di Desa Pule. Mereka diberi nama kehormatan dengan awalan “Joyo” atau “Jaya”, sebagai simbol keberanian dan kemenangan.
Beberapa tokoh prajurit inti tersebut antara lain:
Mas Ngabei Joyo Dikromo
Kyai Ngabei Joyo Santiko
Kyai Ngabei Joyo Rencono
Kyai Ngabei Joyo Puspito
Raden Ngabei Joyo Sentono
Raden Ngabei Joyo Mursito
Kyai Ngabei Joyo Hutomo
Mereka menjadi tulang punggung perjuangan Raden Mas Said dalam menghadapi VOC.
Menurut penelitian Ilham Galih Pambudi dan Yoel Kurniawan Raharjo, perjuangan Raden Mas Said di Dusun Nglaroh terbagi dalam tiga tahap utama.
Meloloskan diri dari Benteng Kartasura dan terlibat dalam perlawanan Tionghoa bersama Raden Mas Garendi (Sunan Kuning).
Bersama Pangeran Mangkubumi, melawan Sunan Pakubuwono II dan III.
Perjuangan pasca Perjanjian Giyanti (Paliyan Nagari), hingga akhirnya menuju jalan damai.
“Raden Mas Said dijuluki Pangeran Samber Nyawa oleh Belanda karena selalu menimbulkan banyak korban di pihak musuh,” tulis Pambudi dan Raharjo.
Peperangan panjang menguras tenaga dan sumber daya rakyat. Sawah terbengkalai, desa-desa kosong, dan korban jiwa terus berjatuhan. Saat Pangeran Mangkubumi menerima tawaran Belanda menjadi Sultan Yogyakarta, Raden Mas Said menyadari bahwa perlawanan bersenjata tak lagi memungkinkan.
Atas ajakan Sunan Pakubuwono III dan dukungan pengikutnya, Raden Mas Said mengakhiri perlawanan. Pada 24 Februari 1757, ia memasuki Surakarta dengan penghormatan rakyat. Perjanjian damai ditetapkan pada 17 Maret 1757 di Kalicacing, Salatiga, yang menjadi dasar berdirinya Kadipaten Mangkunegaran.
Dusun Nglaroh kini dikenal sebagai embrio sejarah Wonogiri. Di sana terdapat Prasasti Watu Gilang, batu tempat Raden Mas Said bermeditasi dan menyusun strategi perang.
Watu Gilang memiliki lima bulatan kecil sebagai penanda hari pasaran Jawa: Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Di belakangnya terdapat Sendang Drajat, sumur yang dipercaya membawa keberkahan dan sering digunakan dalam ritual adat.
Setiap 1 Muharram (1 Suro), Nglaroh menjadi pusat perayaan adat, lengkap dengan pertunjukan wayang kulit dan ritual dari Keraton Surakarta. (Wulan Eka Handayani)








Komentar