Wujud Syukur Hasil Bumi, Warga Gunturharjo Wonogiri Kirab Dua Gunungan

Simbol Syukur dan Silaturahmi Perantau

BeritaWonogiri.com [PARANGGUPITO] – Ratusan warga Dusun Guntur, Desa Gunturharjo, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, menggelar tradisi Sedekah Bumi atau Bersih Desa pada Selasa, 21 Juli 2026. Masyarakat mengarak dua gunungan hasil pertanian mengelilingi dusun sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen yang melimpah sekaligus memohon keberkahan untuk musim tanam mendatang.

Sejak pagi hari, kemeriahan kirab budaya sudah terasa. Warga mengenakan pakaian adat Jawa sembari membawa aneka hasil bumi, seperti sayuran, tanaman pangan, buah-buahan, hingga makanan tradisional. Dua gunungan utama, yakni Gunungan Jaler dan Gunungan Setri, menjadi pusat perhatian ratusan warga yang memadati sepanjang rute kirab.

Prosesi kirab dimulai dari kawasan lereng perbukitan Dusun Guntur menuju lokasi kenduri utama di rumah kepala dusun setempat. Setibanya di lokasi dan setelah doa bersama usai dipanjatkan, warga langsung berebut beragam hasil bumi yang menghiasi kedua gunungan tersebut. Masyarakat mempercayai hasil pertanian dari gunungan membawa keberkahan, rezeki, dan kemakmuran bagi keluarga.

Kepala Dusun Guntur, Widhi Hartono, menjelaskan bahwa tradisi tahunan ini menjadi momentum penting bagi seluruh warga, termasuk masyarakat yang sedang pulang dari perantauan.

“Kegiatan ini merupakan agenda tahunan masyarakat Dusun Guntur. Seluruh warga ikut berpartisipasi, termasuk warga yang pulang dari perantauan. Ini adalah bentuk rasa syukur atas hasil pertanian yang telah diberikan sekaligus doa agar pada tahun mendatang hasil panen semakin baik dan seluruh masyarakat dijauhkan dari berbagai musibah,” ujar Widhi.

Selain menjadi ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, perayaan tradisi Sedekah Bumi ini efektif mempererat tali silaturahmi dan rasa kebersamaan antarwarga dari berbagai latar belakang.

Camat Paranggupito, Joko Trihastono, mengapresiasi konsistensi warga dalam menjaga warisan leluhur. Menurutnya, hampir seluruh desa di Kecamatan Paranggupito rutin menggelar tradisi Bersih Desa dengan ciri khas masing-masing.

“Di Dusun Guntur ini pelaksanaan Bersih Desa dikemas sangat meriah dengan kirab dua gunungan hasil bumi, pertunjukan Reog Ponorogo, jathilan hingga pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Harapannya tradisi ini menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu menarik masyarakat untuk datang ke Paranggupito,” jelas Joko.

Joko menambahkan, seluruh hasil pertanian yang diarak merupakan simbol nyata gotong royong warga dalam merawat adat tradisi dan persatuan masyarakat pedesaan.

Salah seorang warga, Etik Purwanti, mengaku antusias mengikuti seluruh rangkaian acara. Ia bahkan rela berdesakan demi mendapatkan bagian dari gunungan hasil bumi.

“Saya setiap tahun selalu menyempatkan datang untuk ikut kirab dan berebut isi gunungan. Hasilnya nanti dimasak di rumah karena dipercaya membawa berkah dan rezeki bagi keluarga,” tuturnya.

Rangkaian acara ini berlangsung murni atas swadaya masyarakat. Selain kirab budaya, warga menyajikan pentas seni Reog Ponorogo, jathilan, serta pertunjukan wayang kulit semalam suntuk sebagai penutup perayaan. (Naharudin)

Komentar