BeritaWonogiri.com [SEMARANG] – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Badan Gizi Nasional (BGN), asosiasi, dan koperasi peternak akhirnya menyepakati skema penyerapan telur serta daging ayam. Langkah strategis ini bertujuan untuk mendukung kelancaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di seluruh wilayah Jawa Tengah.
Kesepakatan tersebut resmi tertuang dalam dokumen “Komitmen Bersama Penyerapan Telur dan Daging Ayam dalam Program Makan Bergizi Gratis”. Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen memimpin langsung penandatanganan komitmen ini dalam rapat koordinasi lanjutan di Kompleks Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang, Jumat, 19 Juni 2026.
Rapat koordinasi ini menjadi langkah konkret pemerintah untuk mengurai masalah kebutuhan bahan baku sekaligus mengatasi fluktuasi harga komoditas peternakan di Jawa Tengah. Melalui komitmen bersama ini, terdapat tiga poin utama yang wajib dijalankan oleh seluruh pihak terkait.
Pertama, menu penunjang gizi di Jawa Tengah wajib menggunakan komoditas telur dan daging ayam masing-masing sebanyak dua kali dalam satu minggu. Kedua, asosiasi serta koperasi peternak rakyat siap menyediakan pasokan sesuai standar kualitas dan mengirimkannya langsung ke dapur mitra Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG).
Ketiga, pihak SPPG harus melakukan pembelian langsung kepada asosiasi atau koperasi peternak rakyat Jawa Tengah dengan harga acuan yang telah disepakati. Pemerintah menetapkan harga beli telur senilai Rp26.000 per kilogram dan daging ayam karkas sebesar Rp35.000 per kilogram (setara Rp20.000 per kilogram berat hidup).
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, yang juga menjabat sebagai Ketua Satgas MBG Jateng, menegaskan bahwa hasil rakor ini menjadi bentuk penataan rantai pasok agar lebih terarah. Pihaknya ingin memastikan manfaat ekonomi dari program nasional ini benar-benar berputar di dalam daerah.
“Kita sudah sepakat bahwa satu minggu menunya telur dua kali, daging ayam dua kali. Itu sudah ada kesepakatan, maka SPPG yang ada di Jawa Tengah harus menaati ini,” tegas tokoh yang akrab disapa Gus Yasin tersebut, Jumat (19/6/2026).
Gus Yasin menambahkan bahwa pengaturan harga ini sangat penting demi mencegah terjadinya disparitas harga di lapangan. Satgas percepatan MBG di tingkat kabupaten/kota akan mengawasi ketat implementasi kesepakatan ini agar tidak ada pihak yang membeli di bawah harga acuan.
Sementara itu, Direktur Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat BGN, Tengku Syahdana, menyebut komitmen ini menjadi momentum penting untuk menyeragamkan standar menu juknis BGN di seluruh wilayah Jateng. Intervensi ini dinilai tepat waktu mengingat kondisi pasar peternakan saat ini sedang mengalami tekanan akibat produksi yang melimpah (over supply).
Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (KPUS) Jawa Tengah, Suwardi, membeberkan bahwa Jateng saat ini mengalami surplus produksi telur dengan total capaian harian mencapai 2.200 ton. Kehadiran sekitar 4.000 SPPG di Jawa Tengah diperkirakan mampu menyerap sekitar 7 hingga 8 persen dari total produksi telur daerah, atau berkisar 1.050 ton per minggu.
Di sektor pedaging, Ketua Pinsar Jawa Tengah, Susilo, turut menyambut baik intervensi ini. Mengingat harga ayam hidup di kandang saat ini jatuh ke angka Rp17.000 dari HPP normal sebesar Rp20.000, penyerapan massal melalui jalur program gizi ini diharapkan mampu mendongkrak kembali harga komoditas hingga peternak tidak lagi mengalami kerugian. (*)







Komentar