BeritaWonogiri.com [JATIROTO] – Isu ketahanan pangan Wonogiri menjadi bahasan krusial dalam diskusi santai yang mempertemukan berbagai tokoh penting di Cafe Mukti, Desa Brenggolo, Kecamatan Jatiroto, Sabtu (2/5/2026). Pertemuan ini menyoroti pentingnya kemandirian petani dalam mengelola lahan produktif guna menjamin stabilitas distribusi dan konsumsi pangan masyarakat di tengah tantangan rantai pasok global.
Petani Harus Berdiri di Kaki Sendiri
Tokoh terkemuka Wonogiri sekaligus pimpinan Parnaraya Group, Bapak Suparno, menekankan bahwa kunci utama kedaulatan pangan dimulai dari mentalitas petani. Ia mendorong masyarakat untuk tidak membiarkan lahan mereka terbengkalai.
“Petani kita harus mampu berpijak di kaki sendiri dengan memanfaatkan lahan yang dimiliki saat ini. Jangan lemah, jangan malas, karena dengan bekerja keras, Insyaallah kita akan menuai hasil yang sempurna,” tegas Suparno di hadapan perangkat desa dan tokoh masyarakat Jatiroto.
Menurutnya, strategi pemanfaatan lahan pekarangan dan pencegahan alih fungsi lahan produktif menjadi harga mati agar akses pangan masyarakat tetap terjaga. Senada dengan hal tersebut, Edi Prayitno dari Martani Group menyayangkan jika masih ada warga yang memiliki lahan luas namun membiarkannya tidak tergarap.
Empat Pilar Ketahanan Pangan Wonogiri
Perwakilan Dinas Ketahanan Pangan Wonogiri, Agus, memaparkan skema pemerintah dalam memperkuat ketersediaan pangan di wilayah Bumi Sukowati. Ia menjelaskan empat pilar utama yang menjadi fokus saat ini.
“Cara bertindak kami meliputi peningkatan kapasitas produksi, diversifikasi pangan lokal, penguatan cadangan pangan dan sistem logistik, serta pengembangan pertanian modern,” jelas Agus.
Langkah ini diambil agar masyarakat memiliki akses fisik maupun ekonomi terhadap pangan yang aman dan bergizi secara berkelanjutan.
Inovasi Organik dan Optimalisasi Gizi
Tidak hanya soal ketersediaan, aspek teknis budidaya juga menjadi sorotan. Letkol (Purn) Syaiful Budianto membagikan edukasi mengenai penggunaan pupuk organik dan pemberantasan hama dengan bahan alami. Inovasi ini dinilai lebih berkelanjutan bagi kesuburan tanah jangka panjang.
Diskusi tersebut menyimpulkan bahwa ketahanan pangan tidak bisa dipisahkan dari aspek gizi. Produksi yang berkelanjutan dan konsumsi yang cerdas merupakan solusi jangka panjang bagi kesehatan masyarakat. Sinergi antara pemanfaatan lahan, teknologi pertanian, dan kesadaran gizi diharapkan mampu menjadikan Desa Brenggolo sebagai pelopor desa mandiri pangan di Wonogiri. (Setyo Nugroho)







Komentar