BeritaWonogiri.com [JAKARTA] – Suara gamelan mengalun pelan menyambut ratusan warga yang memadati kawasan Blok M Hub, Jakarta Selatan, pada Jumat, 19 Juni 2026. Malam itu, panggung Gebyar Harmoni Budaya Jawa-Betawi tidak sekadar menyajikan pertunjukan seni tradisi, melainkan menjadi ruang perjumpaan dua budaya besar yang berpadu dalam semangat kebersamaan. Agenda Harmoni Budaya Jawa-Betawi ini sekaligus menjadi simbol persatuan nasional yang digagas oleh masyarakat perantauan di ibu kota.
Di tengah suasana kultural yang hangat, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi yang hadir memenuhi undangan Paguyuban Jawa Tengah (PJT) di Jabodetabek selaku penggagas acara, memberikan apresiasi tinggi. Ia menegaskan bahwa keberagaman budaya merupakan modal penting serta kekuatan utama untuk memperkuat pembangunan nasional.
Dalam sambutannya, Ahmad Luthfi menyampaikan ucapan selamat hari jadi ke-499 bagi DKI Jakarta. Ia berharap momentum ini menjadikan Jakarta sebagai ladang kontribusi nasional sekaligus kompas arah (guidance) bagi kemajuan Indonesia di masa depan.
“Saya hadir untuk berkontribusi dan menciptakan semangat persatuan dan kesamaan sikap dalam membangun wilayah. Selamat hari jadi ke-499 DKI Jakarta, semoga menjadi ladang kontribusi nasional dan guidance bagi Indonesia,” ujar Ahmad Luthfi.
Bagi Luthfi, Jakarta adalah titik temu berbagai suku dan budaya Nusantara. Kota megapolitan ini menjadi tempat banyak warga Jawa Tengah mengadu nasib, beradaptasi dengan lingkungan baru, sekaligus memberikan sumbangsih nyata bagi pembangunan daerah tanpa melupakan identitas asal mereka.
Prinsip tersebut tecermin kuat dalam pementasan seni yang menjadi sajian utama. “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Masyarakat di perantauan telah membanggakan Jawa Tengah karena ikut membangun wilayah tempat mereka tinggal sekarang, namun tetap ingat tanah leluhur,” tambahnya.
Di hadapan para tokoh dan masyarakat perantauan, Ahmad Luthfi juga memaparkan perkembangan terkini Provinsi Jawa Tengah yang menunjukkan tren kemajuan signifikan. Wilayah ini kian menarik minat investor, baik dari dalam maupun luar negeri.
Saat ini, Jawa Tengah sukses mentransformasikan diri menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di tingkat nasional melalui pengembangan sektor industri strategis.
“Jawa Tengah sekarang menjadi salah satu basis industri padat karya dan menjadi tumpuan untuk mendobrak investasi,” terang Luthfi optimistis.
Puncak acara Gebyar Harmoni Budaya ditandai dengan kolaborasi epik pementasan wayang kulit Betawi dan wayang kulit Jawa. Pertunjukan ini dibawakan secara apik oleh duet dalang Ki Sukadana dan KRA Ki Gunarto Gunotalijendro, ditambah fragmen teater kolaboratif bertema nilai kebangsaan.
Ketua Umum Paguyuban Jawa Tengah, Leles Sudarmanto, menjelaskan bahwa wayang kulit dipilih karena memiliki nilai historis dan edukatif tinggi. Melalui kolaborasi seni ini, esensi Harmoni Budaya Jawa-Betawi kian memperkuat semangat kebersamaan generasi muda.
“Harmoni Budaya adalah kolaborasi seni budaya antara wong Jawa dan Betawi. Republik Indonesia membutuhkan kolaborasi untuk menyamakan persepsi dan memperkuat persatuan melalui budaya,” tutur Leles.
Acara ini turut dihadiri oleh Gubernur DKI Jakarta periode 1997–2007 Sutiyoso, Duta Besar Palestina untuk Indonesia Abdulfattah AK Al-Sattiri, serta Duta Besar Bahrain untuk Indonesia Ahmed Abdulla AlHajeri. Sutiyoso, yang akrab disapa Bang Yos, memuji inisiatif ini dan menyebut Jakarta sebagai miniatur ideal dari Indonesia yang majemuk namun tetap rukun. (*)







Komentar