BeritaWonogiri.com [SURAKARTA] – Ketahanan pangan Jawa Tengah tetap menunjukkan performa yang kokoh meski sejumlah wilayah di provinsi ini tengah dilanda bencana banjir yang mengancam lahan pertanian. Hingga Maret 2026, stok beras Jawa Tengah 2026 tercatat mengalami surplus hingga ratusan ribu ton, sekaligus memperkuat posisi daerah ini sebagai penopang utama kebutuhan pangan nasional.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan bahwa kondisi swasembada pangan tetap terjaga. Meski ancaman gagal panen menghantui beberapa daerah terdampak cuaca ekstrem, langkah mitigasi yang terintegrasi telah disiapkan untuk menjaga stabilitas pasokan dan kesejahteraan para petani.
Kontribusi 15,6 Persen untuk Pangan Nasional
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa produksi pangan di wilayahnya masih berada pada level surplus yang sangat kuat. Kontribusi sektor pertanian Jawa Tengah, terutama dalam penyediaan gabah kering, memiliki peran vital dalam menjaga neraca pangan di tingkat pusat.
“Surplus pangan kita kuat. Bahkan sekitar 15,6 persen kontribusi sawah dan gabah kering kita turut membantu kebutuhan nasional,” ujar Ahmad Luthfi usai menghadiri sebuah acara di Kota Surakarta, Selasa (7/4/2026).
Skema Jamkrida untuk Lahan Pertanian Puso
Menyadari risiko besar yang dihadapi petani akibat banjir, pemerintah telah menyiapkan skema perlindungan khusus bagi lahan yang mengalami puso atau gagal panen. Ahmad Luthfi menjelaskan bahwa dukungan pembiayaan melalui Jamkrida disiapkan agar petani tidak menanggung kerugian secara mandiri dan tetap memiliki modal untuk kembali menanam.
“Kalau ada sawah terdampak bencana, kita cover melalui Jamkrida supaya petani tetap bisa bangkit,” tegasnya. Berdasarkan data terbaru, surplus beras di Jawa Tengah mencapai 702.409 ton, yang juga diikuti oleh surplus pada komoditas daging dan telur.
Modernisasi Pertanian dan Distribusi Merata
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, menambahkan bahwa hingga awal April 2026, realisasi produksi padi telah mencapai 4.169.353 ton gabah kering giling (GKG). Angka ini setara dengan 39,48 persen dari target tahunan yang dipatok sebesar 10,5 juta ton.
Untuk mendukung keberlanjutan produksi, Pemprov Jateng terus menggencarkan modernisasi melalui distribusi alat dan mesin pertanian (alsintan), seperti rice transplanter, traktor crawler, hingga combine harvester. Rehabilitasi 334 paket jaringan irigasi tersier juga dipercepat guna memastikan distribusi air tetap optimal.
“Yang perlu menjadi perhatian berikutnya adalah distribusi agar surplus ini bisa merata di seluruh wilayah dan menjaga stabilitas harga di pasar,” pungkas pria yang akrab disapa Frans tersebut. (*)






