Situasi Warga Sipil Gaza Memburuk Akibat Blokade Israel Berlanjut

4000 Anak Masuk Daftar Tunggu Operasi dan Amputasi

BeritaWonogiri.com (GAZA) – Kondisi penduduk sipil Gaza diperkirakan akan semakin memburuk jika Israel terus memblokade daerah kantong tersebut. Demikian dikemukakan Pejabat Palestina dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Minggu, 11 Mei 2025.

Saat ini, sekitar 64 persen pasokan medis di Gaza telah habis akibat blokade Israel terhadap titik-titik perlintasan. Indikator ketersediaan obat makin menipis.

“43 persen stok obat-obatan penting dalam kondisi kosong, naik 6 persen dibandingkan bulan lalu,” kata otoritas kesehatan setempat, dikutip Xinhua.

Unit gawat darurat, ruang operasi, dan unit perawatan intensif terpaksa beroperasi dengan sisa persediaan obat, sementara jumlah pasien kritis terus meningkat.

Bassam Zaqout, direktur bantuan medis di Gaza selatan mengatakan, ada lebih dari 4.000 anak telah masuk daftar tunggu operasi darurat, termasuk banyak kasus amputasi.

Zaqout menyebut gejala kelaparan akut mulai menghantui anak-anak, yang berujung pada masalah kesehatan serius, termasuk menurunnya kekebalan tubuh, penyakit usus, dan dehidrasi mematikan

“Pendudukan Israel berakibat anak-anak di Jalur Gaza kesulitan mendapatkan perawatan di saat Gaza kekurangan alat bantu setelah amputasi, seperti kaki atau tangan palsu, dan tidak adanya lingkungan yang mendukung bagi para penyandang disabilitas,” ujar Bassam Zaqout.

Selain anak-anak, kelompok paling terdampak blokade Israel adalah pasien gagal ginjal, tumor, penyakit darah, penyakit jantung, serta penyakit tidak menular.

Abdel Salam Sabah, direktur Rumah Sakit Mata di Gaza, menyampaikan menipisnya bahan habis pakai dan peralatan medis untuk operasi mata. Ini akan menyebabkan layanan operasi lumpuh total, terutama penyakit retina, retinopati diabetik, dan pendarahan dalam (internal bleeding).

Rumah sakit tersebut berencana mengumumkan ketidakmampuannya menyediakan layanan bedah kecuali otoritas-otoritas terkait dan organisasi internasional segera turun tangan, kata sang direktur.

Pada waktu bersamaan, Badan PBB untuk Pengungsi Palestina di Kawasan Timur Tengah (UNRWA) memperingatkan lewat media sosial X, bahwa semakin lama blokade berlanjut, semakin besar pula bahaya permanen yang mengancam banyak nyawa.

UNRWA menambahkan ribuan truk milik mereka hingga saat ini masih tertahan di luar Gaza dan belum bisa masuk.

Israel menghentikan masuknya barang dan pasokan ke Gaza pada 2 Maret, menyusul berakhirnya tahap pertama perjanjian gencatan senjata dengan Hamas pada Januari lalu.

Israel kembali melancarkan serangan terhadap Gaza pada 18 Maret, yang, menurut data otoritas kesehatan di Gaza pada Minggu, telah menyebabkan 2.720 warga Palestina tewas dan 7.513 orang lainnya luka-luka.

PBB  berulang kali memperingatkan bencana kemanusiaan di Gaza, dan melaporkan meningkatnya tanda-tanda kelaparan akut, terutama di kalangan anak-anak.

Situasi kian memburuk ketika organisasi bantuan pangan asal Amerika Serikat, World Central Kitchen, pada Rabu, 7 Mei lalu mengumumkan akan menghentikan operasi dapur umumnya di Gaza.

Menipisnya pasokan bantuan kemanusiaan, memaksa sebagian besar dapur umum di daerah kantong tersebut ditutup akibat kehabisan stok.

Sementara itu, Amjad Shawa, direktur Jaringan Lembaga Swadaya Masyarakat Palestina memperingatkan, penutupan dapur umum bisa semakin memperburuk kelaparan di Gaza.

“Dampak dari bencana kemanusiaan parah ini akan sangat memengaruhi kesehatan dan kehidupan warga, khususnya anak-anak, perempuan, lansia, dan orang yang sakit,” ujar Shawa kepada Xinhua. (Irfandy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *