BeritaWonogiri.com [WONOGIRI] – STABN Raden Wijaya menggelar Wisuda Sarjana XVI dan Magister I pada Selasa, 23 September 2026. Sebanyak 160 wisudawan dinyatakan lulus dalam acara tersebut.
Wisuda ini menjadi yang pertama dilaksanakan di kompleks gedung baru Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya. Para wisudawan terdiri dari 12 lulusan program Magister dan 148 lulusan program Sarjana.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Supriyadi, hadir dalam acara ini. Bupati Wonogiri Setyo Sukarno juga hadir bersama jajaran DPRD Wonogiri, Kodim, Kapolres, Dinas Pendidikan, dan Dinas Lingkungan Hidup.
Turut hadir Pembimas Buddha Provinsi Jawa Tengah, Ketua DPD Walubi, dan Ketua Pusat Pendidikan Fo Guang Shan. Selain itu, hadir Ketua STHAN Jawa Dwipa, Ketua STAB Syailendra, Ketua STIAB Smaratungga, Ketua STAIMAS Wonogiri, dan Ketua STP Sahid Wonogiri.
Tamu undangan lainnya adalah Ketua DPD MBI Jawa Tengah dan Ketua WBI Jawa Tengah.
Dalam sambutannya, Supriyadi menekankan pentingnya integritas bagi para wisudawan dalam menjalani kehidupan dan profesi ke depan.
“Melihat data BPS kurang lebih 68% di akhir tahun 2030 kita akan menghadapi bonus demokrasi, ini penting agar kita tidak euforia. Sesungguhnya ada dua hal penting untuk STAB juga berkontribusi untuk menyiapkan para lulusan yang nantinya betul-betul berkontribusi dan produktif tidak hanya membebani,” ujarnya.
Supriyadi berharap sarjana agama maupun non agama yang dihasilkan benar-benar bisa berkontribusi bagi pembangunan bangsa dan negara.
Ia turut mengingatkan pesan dalam Mangala Sutta yang relevan dengan perjalanan para lulusan ke depan. “Berpengetahuan luas, terampil dalam profesi, terlatih baik dalam tata susila, dan bertutur kata dengan baik, itulah berkah utama,” pungkasnya.
Bupati Wonogiri Setyo Sukarno menyebut STABN Raden Wijaya sebagai miniatur Negara Kesatuan Republik Indonesia. Alasannya, mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia menempuh pendidikan di kampus tersebut.
Setyo Sukarno juga menyampaikan dukungan Pemerintah Kabupaten Wonogiri terhadap rencana peningkatan status STABN Raden Wijaya menjadi institut atau universitas di tahun-tahun mendatang.
Dalam wisuda kali ini, STABN Raden Wijaya menegaskan komitmennya terhadap ekoteologi dan Dharma Ekologi melalui langkah nyata. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pihak kampus mencoba tidak lagi menerima ucapan selamat dalam bentuk papan bunga.
Sebagai gantinya, mitra dan rekanan yang ingin menyampaikan ucapan selamat diajak memberikan bibit tanaman bunga atau bibit tanaman buah. Dengan begitu, ucapan selamat dapat tumbuh dan memberi manfaat jangka panjang.
“Kalau ucapan selamat hari ini dibuat dalam papan bunga, beberapa hari kemudian mungkin sudah menjadi sampah. Maka kami mengubah cara berpikirnya. Kalau ingin mengucapkan selamat kepada kami, berikanlah bibit tanaman bunga atau bibit tanaman buah. Biarkan ucapan selamat itu tumbuh. Biarkan lima atau sepuluh tahun lagi orang masih dapat menikmati buahnya, berteduh di bawah pohonnya, atau melihat bunganya,” demikian pesan yang disampaikan pihak STABN Raden Wijaya.
Pihak kampus juga mengajak para mitra tidak segan membawa plastik bekas berjenis low value saat berkunjung. Plastik yang selama ini dianggap tidak bernilai itu justru ingin dikelola dalam program Dharma Ekologi.
“Pesannya sederhana: dalam Buddhisme, kepedulian terhadap alam tidak cukup dibicarakan di ruang seminar. Ekoteologi harus menjadi praktik. Dharma harus turun menjadi perilaku,” demikian disampaikan.
Kepada para wisudawan, pihak STABN Raden Wijaya berpesan agar tidak hanya mengedepankan pengetahuan (knowledge), tetapi juga mengembangkan diri menuju kebijaksanaan tertinggi (ultimate wisdom). Selain kemampuan profesional, welas asih (compassion) juga ditekankan sebagai bekal penting.
“Dan jangan pernah berhenti belajar, sebab sebagaimana semangat Prajñāpāramitā, perjalanan menuju kebijaksanaan adalah perjalanan yang terus melampaui batas,” pungkas pihak kampus. (Kur)







Komentar