Beritawonogiri.com [WONOGIRI] – Pada tahun 1910, kota Malang, Jawa Timur, dilanda wabah pes yang mengerikan, dikenal sebagai “Maut Hitam”. Penyakit mematikan yang ditularkan melalui kutu tikus ini merenggut banyak nyawa, mengingatkan pada tragedi di Eropa abad ke-14 yang menewaskan sepertiga penduduknya. Namun, di tengah krisis, banyak dokter Eropa di Batavia menolak turun ke Malang untuk mengobati pasien, yang mayoritas adalah pribumi, karena rasisme yang mengakar kuat di era kolonialisme Belanda.
Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, lulusan STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen), tampil sebagai pahlawan kemanusiaan. Meski tanpa alat pelindung diri seperti masker, ia nekat menjelajahi pelosok desa di Malang untuk merawat pasien dan membasmi sarang tikus pembawa pes. Dengan keberanian dan ilmu kedokterannya, ia berhasil menekan penyebaran wabah yang mengancam ribuan jiwa. Kisah heroiknya tak hanya terbatas pada pengobatan, tetapi juga pada tindakan kemanusiaannya mengadopsi seorang bayi perempuan yatim piatu akibat wabah, yang diberi nama Pesjati.
Atas keberhasilannya menaklukkan wabah pes, pemerintah kolonial Belanda menganugerahkan Tjipto penghargaan bergengsi, Ridder in de Orde van Oranje Nassau, pada tahun 1912. Penghargaan ini diberikan langsung oleh Ratu Wilhelmina sebagai pengakuan atas dedikasinya. Namun, semangat kritis Tjipto terhadap ketidakadilan kolonial membuatnya mengembalikan penghargaan tersebut dengan cara yang penuh sindiran. Ketika dilarang membantu menangani wabah pes di Solo, ia meletakkan bintang penghargaan itu di dekat pantatnya sebagai bentuk protes terhadap rasisme dan sikap diskriminatif pemerintah kolonial.
Tindakan Tjipto bukan hanya soal keberanian medis, tetapi juga perlawanan terhadap sistem kolonial yang penuh diskriminasi. Sebagai salah satu tokoh “Tiga Serangkai” bersama Ernest Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara, ia turut mendirikan Indische Partij pada 1912, organisasi politik pertama yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda. Sikapnya yang radikal dan tulisan-tulisannya yang kritis di surat kabar seperti De Locomotief membuatnya beberapa kali diasingkan, namun semangatnya untuk keadilan dan kemanusiaan tak pernah padam.
Kisah Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo adalah cerminan perjuangan seorang dokter yang tak hanya melawan wabah, tetapi juga melawan ketidakadilan sosial. Nama besarnya kini diabadikan sebagai RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo di Jakarta, mengingatkan kita pada dedikasi seorang pahlawan kesehatan yang rela mempertaruhkan nyawa demi rakyat kecil. Kisah ini menjadi inspirasi bahwa keberanian dan kemanusiaan dapat mengubah sejarah, bahkan di tengah zaman penuh rasisme dan penindasan.






