Pertempuran Lima Hari Semarang 2025: Gubernur Ahmad Luthfi Ajak Warga Jateng Hidupkan Semangat Kebangsaan

Peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang menjadi momen Gubernur Ahmad Luthfi mengajak masyarakat Jawa Tengah memperkuat semangat persatuan dan kerja nyata membangun negeri.

Beritawonogiri.com [SEMARANG] – Pertempuran Lima Hari di Semarang kembali diperingati pada Selasa, 14 Oktober 2025, di kawasan Tugu Muda, Kota Semarang. Upacara dipimpin oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi sebagai inspektur upacara, dihadiri pula oleh Sekda Jateng Sumarno, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng, Forkopimda, dan sejumlah veteran pejuang kemerdekaan.

Dalam amanatnya, Ahmad Luthfi menekankan pentingnya menjadikan momentum ini untuk membangkitkan kembali nilai perjuangan, pengabdian, dan persatuan bangsa. Ia menegaskan bahwa semangat pantang menyerah para pahlawan harus menjadi inspirasi dalam membangun Indonesia masa kini.

Para veteran dan tokoh masyarakat Semarang hadir mengenang jasa pahlawan dalam peringatan 80 tahun Pertempuran Lima Hari. (Foto: Zulkarnain)

Menghidupkan Nilai-Nilai Kepahlawanan

“Di Tugu Muda yang elok ini, kita memperingati perjuangan monumental para pahlawan bangsa. Tuhan selalu membimbing langkah kita dalam setiap perjuangan kebaikan,” ujar Ahmad Luthfi dalam sambutannya.

Ia mengingatkan bahwa sosok dr. Kariadi dan kawan-kawan telah memberikan teladan abadi tentang pengorbanan dan pengabdian bagi tanah air. Menurutnya, jasa mereka harus dihayati dengan penghormatan tulus, bukan sekadar dikenang setiap tahun.

Mengadopsi Nilai untuk Masa Kini

Ahmad Luthfi menekankan bahwa perjuangan tidak pernah berakhir. Kini, tantangan bangsa tidak lagi berupa penjajahan fisik, tetapi dalam bentuk sosial, ekonomi, hingga moral. Oleh karena itu, semangat gotong royong dan integritas menjadi pondasi menghadapi masa depan.

“Belajar dari sejarah, mari kita implementasikan nilai persatuan dan kebersamaan itu dalam kerja nyata, demi Indonesia yang maju dan berdaulat,” tegasnya.

Jawa Tengah dan Semangat Gotong Royong

Dalam orasinya, Gubernur memaparkan bahwa Provinsi Jawa Tengah dengan populasi lebih dari 37 juta jiwa, yang terdiri atas 8.573 desa dan 576 kecamatan, memiliki keberagaman luar biasa. Semua itu menjadi kekuatan besar jika disatukan dalam semangat kebersamaan.

“Nyawa Jawa Tengah ada pada gotong royong. Kita harus siap mengulurkan tangan, saling membantu. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul,” ujar mantan Kapolda Jawa Tengah itu penuh semangat.

Seruan untuk Kreativitas dan Inovasi

Tak hanya bicara tentang sejarah, Ahmad Luthfi juga menekankan pentingnya berinovasi dan berkreasi untuk membangun Indonesia. Ia mendorong seluruh generasi muda Jawa Tengah agar terus berkarya dengan menjunjung tinggi integritas dan kerja tuntas.

“Dari Semarang dan Jawa Tengah—basis perjuangan kemerdekaan dan peradaban nusantara—kita kobarkan semangat untuk bekerja nyata bagi bangsa,” tuturnya.

Sejarah Hidup dalam Pertunjukan Kolosal

Rangkaian peringatan diawali dengan pembacaan nukilan sejarah Pertempuran Lima Hari Semarang oleh St Sukirno. Cerita tersebut menggambarkan bagaimana rakyat Semarang melawan pendudukan Jepang pada 14–18 Oktober 1945, hanya sebulan setelah Proklamasi Kemerdekaan.

Kisah heroik itu kemudian ditampilkan dalam pertunjukan kolosal garapan Teater Pitoelas Universitas 17 Agustus Semarang, yang berhasil memukau ribuan penonton di sekitar Tugu Muda.

Warisan Semangat untuk Generasi Bangsa

Peringatan tahun ini menjadi peringatan ke-80 Pertempuran Lima Hari Semarang, yang bukan sekadar seremoni, melainkan refleksi kebangsaan. Gubernur berharap momen ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan diraih dengan pengorbanan besar, dan tanggung jawab generasi kini adalah mengisi kemerdekaan dengan kinerja dan moralitas.

Dengan semangat itu, suasana upacara berakhir khidmat di bawah langit yang mulai cerah—sebuah simbol harapan bagi Jawa Tengah yang terus tumbuh dalam persatuan.(*)

Komentar