BeritaWonogiri.com [SUKOHARJO] – Pagelaran wayang kulit digelar dalam rangka memperingati ulang tahun ke-99 Eyang Putri Rakidjem Karsoredjo di Kampung Madyorejo RT 02 RW 07, Kelurahan Jetis, Kabupaten Sukoharjo, Kamis malam (31/12/2025). Acara yang dimulai pukul 21.00 WIB tersebut berlangsung di halaman rumah Eyang Putri Rakidjem dan disambut antusias oleh warga setempat.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ungkapan rasa syukur atas usia panjang Eyang Putri Rakidjem Karsoredjo, tetapi juga menjadi ajang pelestarian budaya adiluhung sekaligus menyongsong pergantian tahun 2025 menuju 2026. Hadir dalam kesempatan tersebut Kepala Kelurahan Jetis Suyamto, SE., MM., Ketua Lingkungan 4 Kurniawan Rosidi, S.Pd., Kepala Kelurahan Banmati Paidi, S.Sos., MM., Ketua RW 07 M. Fachrudin, M.Pd. beserta jajaran pengurus, Ketua RT 01/07 Madyorejo Joko Sarjana, SH., serta tokoh masyarakat dan warga sekitar.
Pagelaran wayang kulit dalam konteks peringatan ulang tahun memiliki makna filosofis mendalam. Selain sebagai hiburan rakyat, wayang kulit melambangkan doa akan kebijaksanaan, umur panjang, dan harapan agar yang berulang tahun senantiasa berada dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.
Acara diawali dengan sambutan perwakilan tuan rumah, Muskamdi, yang menyampaikan apresiasi kepada seluruh tamu undangan dan warga masyarakat yang hadir.
“Pagelaran wayang kulit malam ini kami selenggarakan dalam rangka ulang tahun Eyang Putri Rakidjem Karsoredjo yang ke-99 tahun. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ajang berlatih bagi para seniman pakeliran dan karawitan, sekaligus menyongsong tahun baru 2026,” ujarnya.
Antusiasme warga terlihat sejak awal hingga akhir pertunjukan. Pagelaran wayang kulit tersebut menghadirkan dalang remaja berbakat, yakni Ki Daffa Ridho Adriansyah dari Baki, Sukoharjo, serta Ki Ahmad Nur Firdaus dari Kelurahan Banmati yang masih duduk di kelas 1 SMP Negeri 2 Tawangsari. Keduanya didukung kelompok karawitan “Manunggal Laras” dari Kelurahan Banmati.
Kehadiran dalang-dalang muda ini menjadi bukti regenerasi seni pedalangan di Sukoharjo yang terus tumbuh dan mendapat ruang apresiasi di tengah masyarakat.
Kepala Kelurahan Jetis, Suyamto, SE., MM., dalam sambutannya menegaskan bahwa pagelaran wayang kulit bukan sekadar hiburan, melainkan sarana mempererat persaudaraan dan melestarikan budaya lokal.
“Pagelaran wayang kulit ini menjadi momentum kebersamaan warga. Selain dalam rangka ulang tahun ke-99 Eyang Putri Rakidjem Karsoredjo, kegiatan ini juga menjadi bagian dari perayaan malam pergantian tahun 2025 ke 2026,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan doa dan harapan terbaik bagi Eyang Putri Rakidjem.
“Selamat ulang tahun ke-99 kepada Eyang Putri Rakidjem Karsoredjo. Semoga selalu diberikan kesehatan dan panjang umur,” pungkas Suyamto.
Pagelaran wayang kulit malam itu mengangkat lakon “Sesaji Raja Suya”, sebuah kisah dari epos Mahabharata. Secara simbolis, tokoh wayang Kresna diserahkan oleh Lurah Jetis kepada Ki Daffa Ridho Adriansyah, sementara tokoh Punto Dewo (Yudhistira) diserahkan oleh Muskamdi kepada Ki Ahmad Nur Firdaus.
Lakon ini mengisahkan upaya Prabu Yudhistira menggelar sesaji sebagai wujud rasa syukur, yang kemudian berujung konflik dengan Prabu Jarasandha, penguasa lalim yang haus kekuasaan. Ambisi jahat Jarasandha yang ingin mengorbankan 100 raja dalam upacara Sesaji Raja Suya digagalkan melalui kecerdikan Prabu Kresna dan kekuatan Werkudara (Bima).
Kisah tersebut menegaskan pesan moral tentang kemenangan kebaikan atas kejahatan, sekaligus relevan dengan nilai kehidupan bermasyarakat.
Pagelaran wayang kulit ini menjadi penutup tahun 2025 yang sarat makna, menggabungkan doa, budaya, dan kebersamaan dalam satu peristiwa yang berkesan bagi warga Jetis, Sukoharjo.(Begug SW)







Komentar