BeritaWonogiri.com [SEMARANG] – Upaya pencegahan narkoba Jawa Tengah terus diperkuat Pemerintah Provinsi Jateng menyusul tingginya ancaman penyalahgunaan narkotika di kalangan generasi muda. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan, langkah pencegahan harus dilakukan secara masif dan konsisten, tidak sekadar respons atas penangkapan bandar.
Komitmen tersebut disampaikan saat menerima audiensi Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Tengah (BNNP Jateng), Toton Rasyid, di ruang kerjanya, Kamis (26/2/2026).
“Jangan hanya saat hari narkoba atau saat penangkapan bandar. Pencegahan narkoba Jawa Tengah harus lebih masif dan konsisten,” ujar Ahmad Luthfi.
Gubernur menilai, pelibatan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan gerakan antinarkoba di tingkat akar rumput.
Program “Kampung Bersinar” (Bersih dari Narkoba) dan “Kampung Tangguh” disebut perlu diperkuat melalui kegiatan nyata di desa dan kelurahan.
“Paling penting kampung bersinar dan tangguh itu diekspose. Masyarakat harus ikut berbicara dan menggalakkan bersama pemerintah dan kepolisian,” tegasnya.
Ahmad Luthfi juga menyoroti wilayah Semarang dan Surakarta sebagai daerah prioritas karena tingkat kerawanannya relatif tinggi. Ia meminta pendataan kabupaten/kota yang belum memiliki Badan Narkotika Nasional Kabupaten/Kota (BNNK).
“Nanti BNNK yang belum ada kantornya didata, agar bisa kita bantu,” katanya.
Kepala BNNP Jateng, Toton Rasyid, mengungkapkan survei prevalensi penyalahgunaan narkoba di Jawa Tengah pada 2024 mencapai 1,3 persen atau setara 195.081 jiwa.
Saat ini, baru sembilan kabupaten/kota yang memiliki BNNK. Ke depan, BNNP Jateng membuka opsi penguatan berbasis zonasi guna memaksimalkan pencegahan narkoba Jawa Tengah sekaligus penindakan.
Dalam aspek rehabilitasi, Toton mengakui kapasitas rawat inap masih terbatas. Rata-rata rumah sakit hanya memiliki sekitar 10 tempat tidur untuk rehabilitasi, sehingga setiap tahun BNNP Jateng baru mampu merehabilitasi sekitar 500 orang.
“Sekarang ini tidak bisa hanya menerapkan hukum atau penjara kepada pecandu, tetapi harus direhabilitasi,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus meningkatkan dukungan hibah bagi BNNP Jateng sebagai bagian dari strategi pencegahan narkoba Jawa Tengah.
Tercatat hibah sebesar Rp 200 juta pada 2022 dan 2023 meningkat menjadi Rp 750 juta pada 2024. Angka tersebut naik signifikan menjadi Rp 1,5 miliar pada 2025 dan 2026.
Langkah ini diharapkan memperkuat kelembagaan BNNP Jateng sebagai garda depan perang melawan narkotika.
Audiensi tersebut juga menekankan pentingnya sinergi lintas sektor antara Pemprov Jateng, BNNP, Forkopimda, dan partisipasi aktif masyarakat.
Ahmad Luthfi menegaskan, pencegahan narkoba Jawa Tengah harus berjalan berkelanjutan agar target mewujudkan Jawa Tengah Bersinar (Bersih dari Narkoba) dapat tercapai.
Dengan pendekatan preventif, rehabilitatif, dan dukungan kelembagaan yang kuat, pemerintah berharap ancaman narkoba terhadap generasi muda dapat ditekan secara signifikan. (*)








Komentar