Nawal Yasin: Kesehatan Mental Santri Harus Jadi Prioritas

Satgas Anti-Bullying Lindungi 535 Ribu Santri

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperkuat program kesehatan mental santri melalui pembentukan satuan tugas (Satgas) anti-bullying dan anti-kekerasan di seluruh pesantren. Langkah ini diambil menyusul temuan 30 kasus kekerasan di lingkungan pesantren selama periode 2019 hingga 2025.

Ketua Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, menegaskan pentingnya penguatan edukasi kesehatan mental sebagai upaya preventif mencegah bullying, kekerasan, dan berbagai persoalan psikologis di pesantren. Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber kegiatan Pesantren Ramah Perempuan dan Anak (Penak) bertema “Membangun Kesadaran Kesehatan Mental dan Santri Konselor Sebaya di Pesantren” di Pondok Pesantren Al Mubarok, Kabupaten Wonosobo, Senin, 15 Juni 2026.

“Kesehatan mental ini menjadi salah satu isu yang terus kita berikan penguatan,” kata Nawal yang hadir mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen.

Data Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Tengah mencatat terjadi 30 kasus kekerasan di pesantren selama enam tahun terakhir. Angka ini menjadi pengingat keras bahwa upaya pencegahan bullying dan kekerasan harus terus diperkuat melalui edukasi, pengawasan, serta sistem perlindungan yang memadai.

Menanggapi hal tersebut, Pemprov Jateng mendorong pembentukan Satgas anti-bullying dan anti-kekerasan di 5.451 pesantren yang tersebar di seluruh Jawa Tengah. Satgas ini diharapkan menjadi garda terdepan dalam menciptakan lingkungan pesantren yang aman, nyaman, dan ramah bagi 535.940 santri.

Nawal menjelaskan bahwa edukasi kesehatan mental tidak hanya akan dilakukan di pesantren, tetapi juga diperluas ke sekolah-sekolah melalui berbagai kegiatan pembinaan peserta didik, terutama saat masa orientasi siswa.

“Bukan hanya di pesantren, tapi juga nanti di beberapa sekolah, kami akan mengadakan edukasi kesehatan mental ketika masa orientasi siswa,” ujar penulis buku Pesantren Anti Bullying dan Kekerasan Seksual tersebut.

Menurut Nawal, generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Kemudahan teknologi seringkali membuat daya tahan mental dan kemampuan menghadapi tekanan menurun, sehingga memerlukan pendampingan yang tepat.

“Jadi harapannya dalam situasi di mana Gen Z yang apa-apa serba instan, untuk resiliensi emosinya ini perlu ada penguatan-penguatan dan pembinaan,” jelas istri Wakil Gubernur Jawa Tengah tersebut.

Melalui pembentukan Satgas dan program edukasi kesehatan mental, Ketua TP PKK Jawa Tengah itu berharap semakin banyak pesantren yang menjadi ruang aman bagi tumbuh kembang santri. Program ini juga mendukung pembentukan karakter serta perlindungan terhadap perempuan dan anak di lingkungan pesantren.

Salah seorang peserta kegiatan, Dinara Kholidya Safina, mengaku memperoleh banyak wawasan baru terkait kesehatan mental dan pencegahan kekerasan di pesantren. “Dari seminar ini, saya bisa mengetahui lebih luas, mana bullying atau tidak, mengetahui batasan-batasan bullying, dan menambah wawasan tentang pesantren ramah perempuan dan anak,” ungkapnya. (*)

Komentar