BeritaWonogiri.com [WONOGIRI] – Silaturahmi rutin dilakukan dua anggota trah berbarengan di rumah anggota trah Sutiyarno dan Sri Sukatmi, Minggu, 5 Mei 2024. Silaturahmi trah Trunosemitan dan trah Martodiwiryan digandengkan dengan kegiatan halal bihalal.
Wakil Ketua Trah Trunosemitan, Edi Prayitno, mengatakan penggabungan silaturahmi dua trah langkah baik. “Di antara anggota trah semakin mengenal dan akrab,” katanya.
Dia yang juga memandu silaturahmi menyatakan halal bihalal digelar sehubungan bulan syawal. Menurutnya, tradisi halal bihalal rutin dilakukan di pertemuan silaturahmi seusai hari raya Idul Fitri.
Baca juga: Trah Wirosaroyo Dropping Air Bersih Ke Warga Dusun Poro, Desa Tlogosari. Per KK Baru Dapat 8 Jerikan
“Halal bihalal digelar sederhana. Ikrar dibaca oleh Bu Kris, anggota trah Martodiwiryan diikuti semua yang hadir. Kemudian diisi tausyiyah hikmah halal bihalal,” jelasnya.

Untuk mengakrabkan anggota kedua anggota trah dibagikan doorprice yang dipandu oleh Bapak Wawan, yang juga dosen UNS. “Pertanyaan seputar trah dan silsilah anggota agar saling mengenal dan memahami.”
Pemandu doorprice, Ir Ary Setiawan, MSc, Phd yang akrab dipanggil Mas Wawan memanggil anggota kedua trah untuk memberikan pertanyaan kepada anggota yang lain untuk mendapatkan doorprice. “Pertanyaan tidak usah berat dan susah. Pertanyaan seputar trah agar lebih kenal dan akrab,” ujarnya.

Muncullah pertanyaan, siapa nama istri saya, siapa istri Mbah Martodiwiryo, kapan terakhir ziarah ke makam Mbah Truno. Pertanyaan tersebut ditanggapi oleh anggota trah dengan riang dan dijawab dengan benar.
Gelak tawa dan senyuman terselip disetiap jawaban anggota kedua trah.
Sementara itu, H Nurhadi Syafei, menegaskan halal bihalal telah menjadi budaya Indonesia dan tidak hanya milik orang Islam. Namun, ujarnya, meminta maaf tidak menunggu Idul Fitri. “Jika setiap manusia berbuat salah, saat itu juga meminta maaf. Yang diutamakan kepada ibu,” tegasnya.

Menurut Nurhadi, hidup manusia tidak bisa sendirian tetapi membutuhkan orang lain. Misalkan membuat baju maka membutuhkan seorang penjahit. “Demikian juga penjahit dan penenun membutuhkan petani kapas untuk dibuat baju. Karena saling membutuhkan di antara sesama itulah maka tidak terhindar dari perbuatan salah dan harus meminta maaf.”
Lebih lanjut Nurhadi menegaskan ibu, pertama dan utama untuk dimuliakan. “Negara memiliki Ibukota tidak ada Bapak kota, kepala daerah kabupaten disebut Bupati tidak ada Bapak. Salah satu dari lima jari kita bernama ibu jari atau dalam bahasa Jawa disebut jempol.”
Nurhadi menjabarkan jempol bisa dilakukan setiap manusia untuk mewujudkan jatidiri dan terangkat derajatnya. Jempol yang dimaksudkan yakni jujur, eling lan waspodo (ingat dan selalu waspada), manembah marang Gusti ingkang kuwoso (bersyukur kepada Allah SWT), prigel (ringan kaki), ober atau berlebih serta loyalitas tinggi.
“Di saat diberi rezeki berlebih, berdermalah. Tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah,” ujarnya. (Suryono)






