BeritaWonogiri.com [SEMARANG] – Kepercayaan pelaku usaha terhadap iklim investasi di Jawa Tengah terus menguat berkat kemudahan perizinan, pendampingan intensif pemerintah, dan komitmen penyelesaian kendala lapangan. Salah satu realisasi nyata adalah rencana pembangunan peternakan sapi perah terbesar di Indonesia berkapasitas 30.000 ekor di Kabupaten Brebes oleh PT Global Dairy Bersama (GDB) yang dijadwalkan memulai groundbreaking pada Senin, 20 Juli 2026.
Kuatnya komitmen dan optimisme tersebut mengemuka dalam acara Business Dinner Gubernur Jawa Tengah bersama para stakeholder perekonomian se-Jawa Tengah di Hotel Padma Semarang, Selasa, 30 Juni 2026 malam.
Sejumlah pelaku usaha mengapresiasi dukungan penuh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) dalam mengawal proses bisnis dari hulu hingga hilir, sehingga mampu memproyeksikan terciptanya ribuan lapangan kerja baru.
Perwakilan PT Global Dairy Bersama (GDB), Ihsan Mulia Putri, mengungkapkan bahwa lancarnya fasilitasi izin dari pemerintah daerah menjadi alasan utama perusahaan memilih Kabupaten Brebes. Sektor peternakan memiliki kompleksitas tinggi, namun pendampingan pemprov membuat seluruh tahapan berjalan mulus.
“Kami berkomitmen untuk investasi peternakan sapi perah di Kabupaten Brebes yang akan menjadi terbesar di Indonesia dengan 30.000 sapi. Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya karena izin-izinnya sudah difasilitasi dengan lancar dan cepat,” ujar Ihsan.
Optimisme serupa datang dari industri manufaktur. Direktur PT Bintang Indokarya Gemilang, Budiarto, menilai industri alas kaki memiliki prospek cerah berkat ekosistem usaha yang kondusif. Ia menegaskan keinginan perusahaan untuk terus berekspansi menggaet penyerapan tenaga kerja lokal yang disokong oleh sektor perbankan seperti Bank Jateng.
Sementara itu, Direktur Eksekutif PT Kawasan Industri Kendal (KIK), Juliani Kusumaningrum, menambahkan bahwa koordinasi melalui Dewan Kawasan yang dipimpin langsung oleh Gubernur mempercepat pemenuhan kebutuhan para investor.
Meski iklim investasi di Jawa Tengah berjalan positif, pelaku usaha menyampaikan adanya kendala teknis pasca-perubahan regulasi pada sistem Online Single Submission (OSS) yang menghambat proses pengunggahan dokumen pengiriman barang. Selain itu, Korrun Group yang menyiapkan investasi 32 hektare di Kabupaten Grobogan dengan potensi 7.000 pekerja juga masih menunggu penyelesaian administrasi lahan.
Menanggapi keluhan tersebut, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan pihaknya akan bergerak cepat melakukan intervensi agar persoalan administrasi tidak menghambat realisasi proyek di lapangan.
“Kita cek OSS-nya. Termasuk OSS-OSS yang lain. Saya tidak ingin investasi terganggu karena persoalan administrasi,” tegas Ahmad Luthfi.
Mengenai lahan di Grobogan, Luthfi memberikan solusi taktis melalui mekanisme perubahan tata ruang bersama Kementerian ATR/BPN, dengan catatan Pemerintah Kabupaten Grobogan wajib menyediakan lahan pengganti guna melindungi kawasan pertanian produktif.
Kepala DPMPTSP Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, memastikan jajarannya siap memberikan pendampingan langsung dan terus berkoordinasi dengan Kementerian Investasi dan Hilirisasi demi menjaga Jawa Tengah tetap menjadi daerah tujuan investasi utama yang menjanjikan. (*)








Komentar