BeritaWonogiri.com [WONOGIRI] – Pegawai seksi Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas) Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Wonogiri melaksanakan pembinaan kepada Penyuluh Agama Islam, di Ruang Pertemuan salah satu rumah makan di Wonokarto, Wonogiri, belum lama ini.
Hadir dua narasumber pada kegiatan itu yakni Waka LPPM Staimas Wonogiri, Nadhiroh, SSosI, MIKom dan Pengasuh Pesantren Hanacaraka Wonogiri, Ahans Mahabie, SS, MA. Kasi Bimas Kantor Kemenag Wonogiri, H Mursidi, SAg, MSi, menyampaikan para penyuluh agama Islam adalah garda terdepan di lapangan yang berhadapan dengan jamaah.
Menurutnya, pola dakwah para penyuluh agama Islam supaya menyesuaikan perkembangan zaman. “Pola dakwah yang dipakai supaya tidak konvensional. Tidak hanya mengisi jamaah di majelis pengajian atau masjid. Bisa memakai pola-pola lain misal melalui media sosial, karya jurnalistik dan budaya,” kata Mursidi.
Baca juga: Mahasiswa Staimas Selesaikan Praktik Profesi KPI Di Dunia Usaha
Sedangkan Ahans mengajak kepada para penyuluh untuk menjadi transformer yang bisa mentransformasikan sesuatu yang baru. Dia mengajak para penyuluh supaya terus bergerak dan melakukan perubahan.
“Para penyuluh berupaya menjadi transformer yang bisa menjadikan seni budaya tidak hanya tidak menghibur tetapi bisa menjadi sarana untuk berdakwah,” ujar Ahans yang menyampaikan materi Dakwah melalui Seni Budaya.
Sementara itu, Nadhiroh melihat para penyuluh sudah menguasai materi-materi dakwah secara komprehensif. Dia berharap penyuluh bisa saling melengkapi antara dakwah bil hal, dakwah bil kalam dan dakwah bil qalam.
“Penyuluh bisa mengemas kegiatan-kegiatan dan materi-materi dakwah ke dalam karya-karya jurnalistik yang bisa dimuat di media massa, baik berupa berita atau opini. Karya-karya jurnalistik bisa dalam bentuk tulis, foto, dan audio video,” ucap Nadhiroh.
Dikemukakan dia, beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika akan berkarya jurnalistik dalam kemasan dakwah yaitu pertama berdasarkan fakta. “Pastikan bahwa karya yang dihasilkan berdasarkan fakta bukan rekayasa atau imajinasi. Kedua, informasi akurat yakni informasi yang disampaikan harus benar, tepat, dan tidak keliru atau salah,” katanya.
Ketiga, bahasa lugas dan jelas, karena diakses oleh masyarakat umum secara luas. Keempat, ada foto atau data pendukung. “Berilah foto pendukung sesuai dengan tulisan yang dihasilkan. Tulisan juga bisa dilengkapi dengan grafis, tabel atau data pendukung lainnya.”
Kelima, didalam karya yang disajikan perlu terdapat muatan-muatan dakwah yang berisi ajakan perbuatan baik dan mencegah kemungkaran. “Misal ajakan untuk menjaga kebersihan, tolong menolong, menjaga lingkungan dan sebagainya. Dan keenam, karya jurnalistik yang dikemas dalam bentuk video bisa dalam durasi pendek atau panjang. Harus benar-benar menampilkan sesuatu yang menarik, berbobot dan tidak menjemukan.”
“Sekarang ini, banyak media-media massa yang men-share karya jurnalistik mereka melalui akun medsos seperti di IG, facebook dan lainnya,” kata Nadhiroh. (Suryono)







Komentar