BeritaWonogiri.com [PARANGGUPITO] – Pemerataan tanah di Pantai Njojogan, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri menjadi pembicaraan warga Wonogiri. Kepala Desa (Pemdes) Paranggupito, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Dwi Hartono menegaskan tanah tersebut tanah sengketa.
“Saya belum pernah kesana [Pantai Njojogan] tapi tanah itu tanah sengketa tapi bisa digunakan selama masyarakat tidak dirugikan. Investornya orang Wonogiri. Lahan yang digarap investor seluas sekitar 5.000-an meter persegi dan jika akan digunakan maka harus ikhlas diberikan lagi,” ujarnya.
Dwi menyatakan dirinya menyebut tanah sengketa karena pada Juni 2023, dilakukan sosialisasi di Sembukan. “Sebelum sosialisasi warga [Paranggupito] sempat menolak kedatangan pihak dari kejaksaan agung yang menyatakan tanah tersebut tanah Batik Keris karena ada warga Paranggupito yang merasa memiliki,” ujarnya.
Baca juga: Pantai Klotok Wonogiri Menjadi Lokasi Youthcamp Forpis Jawa Tengah Korwil 2
Karena muncul penolakan, ujarnya, dilakukan sosialisasi dan pemetaan tanah. Hasilnya tanah dari batas Pacitan sampai DIY sekitar 8 kilometer berjarak 500 meter dari bibir pantai telah dilakukan jual beli oleh Batik Keris. “Hasil pemetaan bahwa tanah itu punya batik keris. Masyarakat bisa memanfaatkan namun jika diminta harus dikembalikan,” jelasnya.
Lebih lanjut Dwi menyatakan investor berasal Wonogiri. Dwi menegaskan jika proyek di Pantai Njojogan proyek pribadi dan desa tidak cawe-cawe. “Pihak investor bekerja sama dengan kelompok masyarakat pariwisata. Sistemnya bagi hasil,” ujarnya tanya menyebutkan persentasenya.

Dwi menyebutkan pekerjaan sudah berjalan sekitat dua minggu. Pada bagian lain Dwi mengatakan lokasi proyek merupakan kawasan geopark. “Kami sudah menyarankan kepada pihak investor, semua bangunan mengedepankan batu dan tidak merusak kawasan geopark,” katanya.
Sedangkan beberapa warga Paranggupito yang minta namanya tidak ditulis menyatakan investor dari Wonogiri disebut-sebut anggota DPRD Wonogiri.
“Sudah pulang dari Jakarta dan hari ini [Rabu] mau kesini [proyek],” ujar salah satu pekerja di lokasi proyek.
Saat Portalika News Network (PNN) ke lokasi ada terdapat belasan pekerja. Mereka terbagi dalam empat titik. Tiga orang mengangkut aspal hotmik yang dinilai tidak jadi dan diturunkan di jalan masuk lokasi wisata, empat orang menata batu anak tangga ke bukit pinggir pantai.
Dua orang mengendalikan alat berat, yakni backhoe dan stoomwals dan sisanya mengerjakan talud pemisah antara lokasi berjualan dan jalan turun menuju pantai. Saat itu jalan utama ditutup total karena ada pengerjaan aspal jalan sehingga memutar jalan kampung ke Pantai Njojogan tersebut. (Triantotus)






