BeritaWonogiri.com [SEMARANG] – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) secara resmi memulai langkah akselerasi menuju Swasembada Pangan Jawa Tengah 2026. Melalui serangkaian strategi terintegrasi yang berbasis data akurat dan intervensi lapangan, Pemprov Jateng optimistis dapat menjaga stabilitas pasokan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di tengah tantangan alih fungsi lahan yang kian masif.
Kepala Distanak Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, mengungkapkan bahwa hingga April 2026, realisasi produksi komoditas utama menunjukkan tren yang menggembirakan. Produksi padi tercatat telah mencapai 4.169.353 ton gabah kering giling (GKG), atau sekitar 39,48 persen dari target tahunan sebesar 10,5 juta ton.
Surplus Beras dan Stabilitas Neraca Pangan
Meskipun masih berada pada fase awal musim tanam, neraca pangan Jawa Tengah saat ini berada dalam kondisi yang sangat aman. Per Maret 2026, Jawa Tengah mencatatkan surplus beras sebesar 702.409 ton. Tren positif ini juga diikuti oleh komoditas daging dan telur yang konsisten mengalami surplus sejak Januari.
“Fokus kami berikutnya adalah memastikan distribusi hasil panen ini merata di seluruh wilayah. Tujuannya agar surplus yang kita miliki mampu menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen tanpa merugikan petani,” ujar Defransisco di Semarang, Selasa (7/4/2026).
Modernisasi Alsintan dan Penguatan Infrastruktur Irigasi
Untuk mendukung target besar tersebut, Pemprov Jateng mengalokasikan bantuan sarana produksi (saprodi) secara luas. Tercatat, bantuan benih padi disiapkan untuk lahan seluas 47.200 hektare, disusul jagung, kedelai, hingga hortikultura seperti bawang merah dan cabai.
Tak hanya benih, pemerintah juga memodernisasi sektor pertanian dengan mendistribusikan ratusan unit alat dan mesin pertanian (alsintan). Sebanyak 100 unit rice transplanter, 86 unit traktor crawler, dan puluhan pompa air disebar ke berbagai kelompok tani. Infrastruktur air pun turut diperkuat melalui rehabilitasi 334 paket jaringan irigasi tersier dan pembangunan sistem irigasi perpipaan.
Perlindungan Petani dan Tantangan Alih Fungsi Lahan
Di sisi lain, pemerintah menyadari adanya ancaman alih fungsi lahan yang mencapai 17.114 hektare pada tahun lalu. Menanggapi hal ini, strategi “indeks pertanaman” dan penggunaan teknologi ditingkatkan. Perlindungan finansial bagi petani juga menjadi prioritas melalui program asuransi usaha tani padi seluas 10.449 hektare serta asuransi tembakau.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, bersama Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, terus mendorong kolaborasi lintas sektor—mulai dari Bank Indonesia hingga aparat keamanan—untuk mengawal jalur distribusi. Sinergi ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat kedaulatan pangan nasional dari level daerah. (*)







Komentar