BeritaWonogiri.com (JAKARTA) –Momen paling sakral dalam ibadah rukun Islam ke lima adalah Wukuf di Arafah. Jutaan umat Muslim berbagai penjuru dunia berhenti sejenak, merenungi makna terdalam dari perjalanan hidupnya.
Wukuf bukan sekadar ritual fisik, melainkan momentum bermuhasabah, memohon ampunan, serta memperbarui tekad dalam menjalani kehidupan lebih baik dan bermakna.
Menurut Sekretaris Komisi Fatwa MUI, KH Miftahul Huda, wukuf tidak hanya berkaitan tempat dan waktu, tetapi menyimpan makna mendalam. Wukuf dalam konteks bahasa berarti berhenti. Setiap hidup pasti akan mengalami masa pemberhentian.
“Wukuf mengajarkan kita untuk berhenti, bermuhasabah, dan menyadari bahwa pada akhirnya semua akan kembali kepada Allah SWT,” ujar Kiai Miftah dikutip MUI.OR.ID, Rabu, 4 Juni 2025.
Wukuf adalah salah satu rukun haji paling utama. Sehingga Nabi Muhammad SAW bersabda, “Haji adalah Arafah”. Artinya, siapa yang tidak melakukan wukuf, maka hajinya tidak sah.
Kiai Miftah menjelaskan, Wukuf di Arafah bukan sekadar ritual, melainkan juga sebuah momentum penuh makna yang mengingatkan kita pada hari pembalasan kelak. Saat wukuf, dianjurkan memperbanyak amalan mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memohon ampunan bagi diri serta orang-orang tercinta.
“Maka, amalan yang paling dianjurkan saat wukuf adalah memperbanyak istighfar, berzikir, dan berdoa kepada Allah SWT. Tak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga mendoakan orang tua, keluarga, guru, dan sesama Muslim,” katanya.
Secara praktik, kegiatan utama selama wukuf dimulai dengan mendengarkan khutbah wukuf yang disampaikan setelah tergelincir matahari, lalu dilanjutkan pelaksanaan shalat Zuhur dan Ashar secara jama’ taqdim.
Setelah itu, jamaah dianjurkan mengisi waktu dengan memperbanyak doa, istighfar, serta kalimat thayyibah. Selain itu, Kiai Miftah juga berpesan agar para jamaah senantiasa menjaga kesucian dan kekhusyukan selama wukuf.
Selama berada di Arafah, jamaah masih dalam keadaan ihram. Oleh karena itu, larangan ihram tetap berlaku, seperti tidak mencukur rambut, tidak memakai wewangian, serta menjaga diri dari pertengkaran dan hal-hal yang dapat membatalkan kekhusyukan.
“Termasuk di antaranya menghindari kesibukan dengan media sosial (Bermain HP) yang bisa mengganggu kekhusyukan dalam beribadah,” katanya menjelaskan. (Irfandy*)






