Beritawonogiri.com [JAKARTA] – Kasus keracunan yang terjadi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian publik. Berdasarkan evaluasi bersama Badan Gizi Nasional (BGN), Kementerian Kesehatan, dan BPOM, sebagian besar kasus muncul di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang baru beroperasi kurang dari satu bulan.
Kepala Kantor Staf Presiden (KSP), Muhammad Qodari, menjelaskan ada empat faktor utama penyebab keracunan. “Pertama, higienitas makanan. Kedua, suhu makanan dan ketidaksesuaian SOP dalam pengolahan. Ketiga, kontaminasi dari petugas dapur umum. Dan keempat, penerima manfaat mengalami alergi terhadap makanan tertentu,” ungkap Qodari dalam keterangannya, Senin (22/9/2025).
Menurut Qodari, kasus keracunan ini menjadi bahan evaluasi serius pemerintah. Ia menegaskan perlunya setiap SPPG memenuhi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) yang diverifikasi dan diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan. “Langkah ini menjadi syarat penting agar program MBG berjalan dengan aman dan sesuai standar kesehatan,” katanya.
Kemenkes dan BPOM diminta memperkuat peran pengawasan, baik di tahap produksi, distribusi, maupun penyajian makanan. Dengan begitu, potensi keracunan akibat kelalaian atau standar higienitas yang rendah bisa diminimalisir.
Qodari juga menekankan bahwa peran KSP bukan hanya mengawal program prioritas presiden, melainkan juga mengelola isu strategis agar tidak menumpuk menjadi gejolak publik. “Di era media massa dan media sosial, setiap informasi dapat dengan cepat meluas. Pemerintah perlu hadir dengan penjelasan yang tepat waktu,” ujarnya.
Pemerintah, lanjut Qodari, menyadari kritik masyarakat dan parlemen sebagai bentuk kontrol publik. Karena itu, keterbukaan informasi dan perbaikan kebijakan menjadi kunci menjaga kepercayaan.
“Kami memastikan setiap kekurangan akan diperbaiki. Dengan adanya evaluasi ini, diharapkan kasus keracunan dalam program MBG tidak terulang kembali, dan penerima manfaat tetap terlindungi,” pungkas Qodari.(*)







Komentar