Banjir Jabodetabek di Musim Kemarau, BRIN: Mitigasi Kurang Antisipasi

Prof. Erma Yulihastin Soroti Prediksi dan Solusi Banjir Berbasis Sains

Beritawonogiri.com [JAKARTA] – Peneliti klimatologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Erma Yulihastin, menyoroti banjir yang melanda Jabodetabek di tengah puncak musim kemarau, Juli 2025. Dalam cuitannya di akun X (@EYulihastin) pada 8 Juli 2025, ia menyatakan bahwa banjir ini seharusnya dapat diantisipasi sejak Januari 2025 jika pemerintah menerapkan kebijakan berbasis sains.

“Kami di BRIN tak hanya melakukan riset, tetapi juga membangun tools prediksi,” tegas Erma. Menurut Erma, fenomena kemarau basah yang dipicu oleh dinamika siklonik vorteks di Samudra Hindia telah menyebabkan hujan ekstrem di Jabodetabek, bahkan saat seharusnya musim kering. Riset BRIN menunjukkan bahwa suhu permukaan laut yang menghangat di Samudra Hindia dan Laut Jawa memicu pembentukan awan konvektif, menyebabkan hujan sporadis yang berpotensi banjir. Erma juga menyoroti alat prediksi BRIN bernama Kamajaya, yang dirancang untuk memantau dinamika cuaca dan memberikan peringatan dini terkait potensi banjir, termasuk untuk sektor pertanian dan operasional lainnya.

“Vorteks di Samudra Hindia dekat Banten memperkuat hujan dari laut ke darat, menyebabkan banjir meluas di Jabodetabek,” jelas Erma. Ia menambahkan bahwa studi BRIN terhadap 50 kejadian vorteks selama 2019–2022 menunjukkan pola kemarau basah yang kini menjadi tren akibat perubahan iklim. Erma menegaskan bahwa pemerintah perlu memperkuat tanggul-tanggul DAS dan memperbesar drainase untuk mitigasi efektif.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mencatat bahwa musim kemarau 2025 tertunda akibat fenomena seperti Indian Ocean Dipole (IOD) netral dan dinamika atmosfer regional, yang meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir. Sementara itu, penelitian terbaru menunjukkan bahwa pendekatan berbasis machine learning, seperti model Deep Neural Investigation Network (DNIN), dapat meningkatkan akurasi prediksi banjir untuk mendukung mitigasi bencana.

Erma mendesak pemerintah untuk memanfaatkan data ilmiah dan teknologi prediksi seperti Kamajaya agar kebijakan mitigasi lebih tepat sasaran. Ia juga mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap potensi banjir yang meluas, terutama di daerah aliran sungai seperti Cikeas dan Bekasi. Dengan sinergi antara riset, teknologi, dan kebijakan, Erma optimistis banjir di musim kemarau dapat diminimalkan demi keselamatan warga Jabodetabek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *