Beritawonogiri.com [BREBES] – Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Jawa Tengah kembali menunjukkan komitmennya dalam pemberdayaan perempuan desa. Kali ini, puluhan perempuan di Desa Kupu, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes mendapat pelatihan mengolah bawang merah menjadi produk bernilai jual tinggi, seperti bawang crispy, pada Senin (15/9/2025).
Ketua Umum BKOW Jateng, Nawal Arafah Yasin, menegaskan pelatihan ini bertujuan meningkatkan keterampilan sekaligus kemandirian ekonomi perempuan. “Banyak perempuan yang ikut membantu suami mencari nafkah, bahkan menjadi tulang punggung keluarga. Pelatihan ini diharapkan bisa membuka peluang usaha baru bagi mereka,” ungkapnya di Balai Desa Kupu.

Menurut Nawal, langkah ini juga selaras dengan upaya pemerintah menekan angka kemiskinan di Jawa Tengah. Ia menyebut data Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2025 yang menunjukkan penurunan angka kemiskinan dari 9,58 persen menjadi 9,48 persen. “Harapannya, paling tidak 0,10 persen penurunan itu juga berkat kontribusi BKOW melalui program Desa Sejahtera bagi Perempuan dan Anak (Destara),” tambahnya.
Nawal menekankan pentingnya dukungan lintas sektor, baik pemerintah kabupaten/kota maupun pihak swasta. “Sinergi adalah kunci. Jika lembaga dan pemangku kepentingan berkolaborasi, penurunan angka kemiskinan bisa lebih cepat tercapai,” ujarnya.
Pelatihan ini tidak berhenti pada teori. Peserta akan didampingi untuk menciptakan inovasi produk bawang merah crispy aneka rasa dan dipasarkan melalui jalur digital. Dengan begitu, produk lokal desa bisa menembus pasar lebih luas.
Asisten I Sekda Kabupaten Brebes, Khaerul Abidin, mengapresiasi langkah BKOW Jateng. Ia menegaskan bahwa Brebes merupakan sentra bawang merah nasional dengan luas tanam rata-rata mencapai 30.000 hektare dan produksi sekitar 300.000 ton per tahun. “Selama ini nilai tambah bawang merah belum maksimal. Dengan adanya pelatihan ini, peran perempuan desa sangat penting untuk menciptakan produk turunan bernilai tinggi,” jelasnya.
Khaerul optimistis, melalui keterampilan yang diasah, perempuan desa bisa berperan lebih luas dalam menggerakkan perekonomian keluarga sekaligus membangun desa. “Perempuan tidak hanya menopang rumah tangga, tapi juga bisa menjadi motor penggerak ekonomi daerah,” tutupnya.(*)






