BeritaWonogiri.com [SIDOHARJO] – Lahan Produktif Wonogiri mulai diwujudkan melalui inisiatif Paidi, warga Desa Sempukerep, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri, yang memilih pulang kampung setelah sukses merantau. Bersama sekitar 30 petani, ia mulai mengelola sekitar 10 hektare lahan yang sebelumnya tidak produktif agar menjadi kawasan pertanian yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Langkah tersebut mendapat perhatian berbagai tokoh masyarakat, petani, hingga kelompok Sultan Bukit yang dipimpin Suparno atau Parnaraya. Mereka datang langsung ke lokasi untuk melihat konsep pengembangan lahan yang berada di kawasan lereng Kambengan, Minggu, 5 Juli 2026.
Paidi mengatakan, lahan yang saat ini mulai dikelola sebelumnya merupakan lahan kritis yang selama ini dimanfaatkan untuk tanaman kehutanan seperti jati, akasia, sengon, dan tanaman sejenis.
Kini, lahan tersebut akan ditata menjadi kawasan pertanian yang lebih produktif melalui pengelolaan terpadu dengan melibatkan masyarakat sekitar.
“Setelah lama di perantauan, kini saatnya bergerak untuk petani desa dengan memulai mengelola lahan yang tidak produktif. Tanah ini akan kami kelola sebaik mungkin. Saat ini sudah sekitar 30 petani yang mulai bekerja menggarap lahan,” ujar Paidi.
Ia menambahkan, pengembangan kawasan tersebut tidak hanya difokuskan pada sektor pertanian, tetapi juga memiliki peluang dikembangkan sebagai kawasan wisata alam karena berada di kawasan lereng Kambengan yang memiliki panorama menarik.
Kabar mengenai pengembangan lahan seluas lebih dari 10 hektare itu langsung mendapat respons dari Ketua Kelompok Sultan Bukit, Suparno (Parnaraya). Melalui grup WhatsApp, ia mengajak anggota kelompoknya melakukan kunjungan lapangan.
Rombongan tiba sekitar pukul 13.45 WIB dan disambut langsung oleh keluarga Paidi. Setelah berbincang santai sambil menikmati kopi, rombongan kemudian meninjau area pertanian selama kurang lebih 30 menit.
Menurut Suparno, kunjungan tersebut dilakukan untuk mengetahui secara langsung konsep pengembangan lahan yang sedang dipersiapkan.
Dalam kesempatan itu, Suparno menilai kawasan tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian produktif.
Ia mengakui bahwa kebutuhan air saat musim hujan diperkirakan dapat dipenuhi dari kawasan Gunung Kambengan. Namun saat musim kemarau, diperlukan strategi pengelolaan sumber air yang baik.
“Kalau musim hujan tentu kebutuhan air bisa tercukupi dari Gunung Kambengan. Saat musim kemarau mungkin menjadi tantangan, tetapi selama masih ada sumber air di bawah tanah, saya yakin pertanian tetap bisa dijalankan,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat Wonogiri yang telah sukses di perantauan agar kembali berkontribusi membangun daerah asal, terutama melalui sektor pertanian.
“Mari bersama-sama meningkatkan ketahanan pangan di daerah kita masing-masing,” ujarnya.
Program pengembangan lahan tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi berbagai elemen masyarakat, mulai dari petani, tokoh desa hingga pelaku usaha.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Edi Prayitno dari Martani Group, mantan Kepala Desa Sempukerep Parjo, tokoh masyarakat sekaligus pengusaha wilayah Sidoharjo, serta Setyo Nugroho.
Kehadiran berbagai pihak diharapkan mampu memperkuat sinergi dalam mengembangkan kawasan pertanian produktif yang nantinya dapat menjadi contoh bagi masyarakat maupun para perantau lain untuk ikut membangun desa melalui sektor pertanian. (Setyo Nugroho)







Komentar