Rumah Tiban di Dusun Cale, Desa Semen, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, menjadi tempat Mbah Sinem tinggal. Dia mengaku pernah dibawa penunggu Omah Tiban ke laut selatan Jawa.
Peristiwa itu terjadi tepat sebelum ia dinobatkan menjadi juru kunci menggantikan ibunya di Rumah Tiban Wonogiri ini.
Menurutnya, rumah tiban Wonogiri dibangun oleh empat anggota Walisongo yang sedang mencari kayu untuk bahan membangun Masjid Demak. Rumah itu dijadikan tempat istirahat dan ibadah sementara para wali tersebut.
Baca juga: BBP Aspro Jatiroto Juarai Turnamen Sepakbola Taruna Shakti Cup I. Kalahkan Kasih Ibu Jatisrono 2-0
Sementara mbah Sinem sudah menjadi juru kunci Omah Tiban selama puluhan tahun. Ia menggantikan peran ibunya.
Kini mbah Sinem mengaku sudah berusia lebih dari 100 tahun dan memiliki 10 anak. Kendati sudah berumur senja, Mbah Sinem masih lancar berkomunikasi. Pun pendengarannya masih normal. Ia tampak sehat dan segar.
Mbah Sinem kepada portalika news network menceritakan, sebelum menjadi juru kunci di Rumah Tiban Wonogiri, dia sempat dibawa oleh Suling Werni ke Pantai Selatan Jawa. Peristiwa itu ia alami ketika ia masih berusia muda.
Sebagai informasi, di dalam Rumah Tiban, terdapat empat tiang penyangga. Masing-masing tiang memiliki nama, yaitu Gambir Anom, Suling Werni, Ngglanglang Jagad, dan Jati Kesumo.

Tiang-tiang itu terbuat dari kayu jati yang warnanya sudah menghitam. Masing-masing tiang penyangga berselimut kain putih. Di antara empat tiang itu, tiang bernama Suling Werni dianggap paling sakral.
Tiang Suling Werni berada paling belakang sebelah kiri. Di bawah tiang itu tampak bunga-bunga yang sudah layu dan bekas kemenyan atau sesajen.
“Saya pernah ketemu dengan Bu Suling Werni dan dibawa ke laut selatan Jawa. Tapi perjalanannya tidak lama, cepat sekali. Dari rumah tiba-tiba sudah sampai sana. Saat itu saya diam saja di sana. Bu Suling Werni juga diam, tidak ngomong. Saya merasakan di sana cukup lama. Terus tiba-tiba juga sudah sampai di rumah,” kata Mbah Sinem.
Mbah Sinem percaya keempat tiang itu memiliki penunggu. Dari keempatnya, tiang bernama Suling Werni dianggap paling sakral dan rewel lantaran dianggap berjenis kelamin perempuan sendiri.
Tiang itu diperlakukan berbeda dibanding tiga tiang lain. Mbah Sinem selalu menyulut kemenyan atau dupa setiap dan rutin mengganti air kembang pada malam Jumat di tiang Suling Werni.
Menurutnya, sosok Suling Werni adalah perempuan. Ia tidak banyak bicara namun bersifat keibuan. Mbah Sinem bahkan sudah menganggap Suling Werni seperti ibunya sendiri.
Tiang Suling Werni itu pula yang kerap menjadi jujukan para peziarah dari berbagai daerah untuk meminta permohonan. Suling Werni dipercaya bisa menjadi perantara doa antara pemohon dengan Tuhan.
“Saya dulu diamanahi ibu [kandung] untuk menjaga Omah Tiban di Wonogiri [Rumah Tiban Wonogiri] ini. Dari dulu sudah banyak didatangi orang dari berbagai daerah. Mereka ke sini minta kelancaran rezeki, dibebaskan dari utang, diberi kelimpahan harta, atau mau menyembuhkan penyakit,” ujar Mbah Sinem. (Lukman/*)







Komentar