Mr Raden Mas Sartono: Putra Slogohimo Ukir Sejarah Sebagai Ketua DPR RI Pertama

Kisah Inspiratif Tokoh Bangsawan Jawa Pejuang Demokrasi Indonesia

BeritaWonogiri.com [WONOGIRI] – Nama Mr Raden Mas Sartono (5 Agustus 1900 – 15 Oktober 1968) mungkin tidak terlalu familiar bagi generasi muda saat ini, namun kontribusinya dalam perjuangan kemerdekaan dan pembentukan sistem pemerintahan modern di Indonesia sangatlah besar.

Lahir di Slogohimo, Wonogiri , sebagai keturunan bangsawan Jawa, Sartono tumbuh menjadi seorang pengacara dan politisi yang memperjuangkan hak-hak rakyat Indonesia di masa penjajahan hingga masa awal kemerdekaan.

Latar belakang pendidikan dan karier
Sartono adalah salah satu intelektual muda Indonesia yang menempuh pendidikan tinggi pada masanya. Ia mengikuti sekolah-sekolah elit seperti Hollandsch-Inlandsche School (HIS), Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), Algemeene Middelbare School (AMS) dan Rechtshoogeschool te Batavia, yang diselesaikannya pada tahun 1922.

Kemudian, ia melanjutkan studi ke Universitas Leiden di Belanda dan meraih gelar Meester in de Rechten (Mr) pada tahun 1926.

Baca juga: Civitas Akademika SMPN 6 Wonogiri Diingatkan Soal Bullying Dan Kenakalan Remaja Harus Dihindari

Dalam id.wikipedia.org ditulis, pendidikan tinggi ini menjadi modal bagi Sartono untuk terlibat dalam dunia hukum dan politik. Ia bergabung dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikan oleh Soekarno dan kemudian mendirikan partai-partai baru seperti Partai Indonesia dan Gerakan Rakyat Indonesia (GRI) .

Peran Dalam Perjuangan Kemerdekaan
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Sartono dipercaya menjabat sebagai Menteri Negara dalam Kabinet Presidensial,

Di sini, ia bekerja bersama tokoh-tokoh besar lainnya seperti Mohammad Amir, Abdul Wahid Hasyim, Alexander Andries Maramis dan Oto Iskandar di Nata. Perannya dalam merumuskan kebijakan strategis dan upaya diplomasi internasional sangat penting untuk memperkuat kedaulatan negara.

Ketua DPR RI Pertama
Pada tanggal 22 Februari 1950, Sartono terpilih sebagai Ketua DPR Republik Indonesia Serikat (RIS) setelah mengalahkan calon lainnya, seperti Mohammad Yamin dan Mr Tambunan.

Ia memperoleh 51 suara, sementara Mohammad Yamin mendapatkan 39 suara. Setelah RIS dibubarkan pada 15 Agustus 1950, Sartono kembali dilantik sebagai Ketua DPR Negara Kesatuan RI pada 16 Agustus 1950. Ia memimpin lembaga legislatif pertama di era negara kesatuan ini hingga masa transisi berikutnya.

Kehidupan Pribadi
Sartono lahir dari keluarga bangsawan Jawa. Ayahnya, Raden Mas Martodikaryo , adalah cicit dari Mangkunegoro II, sedangkan ibunya, Raden Ajeng Ramini, adalah cucu dari Mangkunegoro III. Pada tanggal 26 Mei 1930, Sartono menikah dengan Siti Zaenab, putri seorang saudagar batik ternama di Solo, Wiryowiguno. Dari pernikahannya, ia dikaruniai tiga anak yaknk RM Gunadi, RA Sri Mulyati dan RA Rukmini .

Warisan Dan Pengaruh
Nama Sartono berasal dari kata Jawa, yaitu sarto dan ono, yang artinya “keberadaannya menjadi pelengkap”. Seperti makna namanya, Sartono selalu menjadi pelengkap dalam perjuangan bangsa.

Ia dikenang sebagai tokoh yang teguh dalam memperjuangkan prinsip-prinsip demokrasi dan nasionalisme. Warisan pemikirannya tercermin dalam partai-partai yang ia dirikan, yang mengedepankan nilai-nilai persatuan dan keberagaman.

Sartono meninggal dunia pada 15 Oktober 1968, namun jejak perjuangannya tetap abadi dalam sejarah bangsa Indonesia.(*)

Editor: Suryono

Komentar