BeritaWonogiri.com [BANDUNG] – Mudik gratis Jateng menunjukkan komitmen inklusivitasnya saat Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menyambangi Adelia Adinda Putri (25), pemudik pengidap hidrosefalus, di dalam bus yang terparkir di Lanud Husein Sastranegara, Bandung, Senin (16/3/2026). Gadis asal Sukoharjo ini tidak bisa duduk maupun berjalan, sehingga panitia menyiapkan deretan kursi panjang agar ia dapat berbaring nyaman selama perjalanan.
Gus Yasin—sapaan akrab Taj Yasin—perlahan mendekati baris belakang bus tempat Adelia beristirahat. Ia memastikan kondisi pemudik istimewa tersebut nyaman dan mendapat perhatian layak.
“Tadi ada dua yang istimewa. Salah satunya Adelia ini, dia tidak bisa duduk karena sakit di punggung,” ujar Gus Yasin.
Ia menegaskan layanan pemerintah tidak boleh berhenti di terminal. “Nanti sampai di Terminal Sukoharjo, akan kita antar dengan mobil yang sudah kita siapkan sampai ke rumahnya,” jelasnya.
Sang ibu, Tutik Dwi (56), penjual jamu tradisional di Bandung sejak 1998, tak menyembunyikan harunya. “Baru sekali ini ikut. Dulu pernah mau ikut, tapi adiknya sakit dan harus dibawa ke rumah sakit, jadi batal,” tuturnya.
Kesempatan tahun ini datang setelah pengurus paguyuban memberi informasi tentang mudik gratis Jateng. Panitia bahkan menawarkan penjemputan ambulans ke rumah, namun Tutik menolak karena tidak enak hati.
Ketua Satgas Mudik Paguyuban Jawa Tengah Bandung Raya, Farchan Djuniaji, menyebut kehadiran Adelia sebagai anugerah kemanusiaan. Tim menyiapkan ambulans untuk transit dan menata ulang satu baris kursi belakang khusus untuk keluarga Adelia.
“Ini anugerah luar biasa bagi kami bisa memfasilitasi disabel. Satu baris kursi belakang itu kami tata khusus agar mereka nyaman,” pungkas Farchan.
Bagi Tutik, perjalanan ini bukan sekadar pulang kampung. “Pengurus, panitia semuanya baik-baik. Anak saya difasilitasi dengan baik. Semuanya peduli. Saya bahagia bisa ikut di sini. Apalagi gratis, jadi tidak ada pengeluaran,” ujarnya dengan mata berkaca.
Program mudik gratis Jateng tahun ini tidak hanya memprioritaskan kuantitas, tetapi juga kualitas layanan inklusif bagi pemudik berkebutuhan khusus. (Zul)






