BeritaWonogiri.com [SEMARANG] – Langkah kecil namun penuh makna diukir oleh Tahani Ahla Al Amani, siswi kelas 4 Sekolah Dasar Hj Isriati Baiturrahman 1 Semarang. Di usianya yang baru 10 tahun, Ahla berhasil meraih medali perak dalam ajang kompetisi coding dan kreativitas mekanika tingkat regional, GREENMECH Programmer 2026, yang digelar di Kampus Universitas Negeri Semarang (UNNES), Sabtu (10/1/2026).
Kompetisi yang diselenggarakan oleh Rumah Edukasi ini bukan sekadar perlombaan biasa. Ahla dan timnya, Cosmic 1C, ditantang untuk membangun mesin Rube Goldberg—sebuah rangkaian mekanika kompleks untuk menyelesaikan tugas sederhana—dengan mengintegrasikan prinsip STEM (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics) dan berfokus pada solusi berbasis energi hijau serta ekonomi sirkular. Tantangan ini menguji logika pemrograman, ketelitian teknik, dan kreativitas dalam satu paket.
“Alhamdulillah, Kak Ahla dan tim Cosmic 1C berhasil meraih medali perak sekaligus mendapatkan voucher senilai Rp 800 ribu. Ini menjadi kebanggaan bagi sekolah,” ungkap Nur Ulfah Maulida, guru sekaligus wali kelas Ahla, dengan nada penuh antusias.
Prestasi ini tidak serta-merta datang. Menurut Maulida, persiapan dilakukan dengan tekun dan terstruktur. Yang lebih membanggakan, medali perak ini bukanlah garis akhir. Tim Cosmic 1C telah mengalihkan pandangan ke target yang lebih tinggi.
“Saat ini mereka sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti kejuaraan nasional yang akan diselenggarakan di Bandung pada 24 April 2026 mendatang. Jika berhasil, langkah selanjutnya adalah kompetisi internasional di Thailand pada Agustus 2026,” papar Maulida, menegaskan bahwa perjalanan Ahla dan tim baru saja dimulai.
Ahla, yang merupakan putri ketiga dari Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, dan Hj Nawal Arafah Yasin MSI, ternyata tidak hanya jago dalam bidang logika seperti coding. Dunia seni juga menjadi bagian dari minatnya. Ia pernah meraih Juara Harapan II dalam lomba paduan suara SJSS (Solo Jawa Students’ Songfest). Kombinasi ini, menurut pengamatan gurunya, memberikan warna yang unik dalam proses belajar dan berpikir Ahla.
“Ia menunjukkan keseimbangan yang baik antara pemikiran analitis dan ekspresi artistik. Itu mungkin yang membuat penyelesaian masalahnya dalam kompetisi memiliki sentuhan kreatif yang berbeda,” tambah Maulida.
Ajang GREENMECH sendiri telah lama dikenal sebagai inkubator talenta muda Indonesia di bidang sains dan teknologi. Kompetisi berjenjang ini memiliki beberapa kategori, seperti GreenMech Basic, Advanced, Junior Science, Junior Programmer, hingga Robot for Mission (R4M). Dalam beberapa tahun terakhir, delegasi Indonesia kerap mencatatkan prestasi membanggakan di tingkat Asia, menunjukkan kualitas pendidikan STEM di tanah air yang terus berkembang.
Kisah Ahla dan Tim Cosmic 1C ini adalah secercah cahaya di tengah gencarnya pembangunan sumber daya manusia (SDM) unggul, terutama dalam menghadapi revolusi industri 4.0 dan isu keberlanjutan lingkungan. Dari sebuah ruang kelas di Semarang, mereka membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk berkontribusi pada inovasi teknologi hijau.
Prestasi anak-anak seperti Ahla menjadi penanda bahwa masa depan teknologi dan inovasi ramah lingkungan Indonesia sedang bertumbuh dengan subur. Mereka belajar tidak hanya untuk berlomba, tetapi juga untuk memecahkan masalah nyata dengan prinsip keberlanjutan, satu baris kode dan satu rangkaian mekanika dalam satu waktu. (*)







Komentar