Beritawonogiri.com [KARANGTENGAH] – Talas beneng, tanaman umbi-umbian berukuran besar dengan daun oval hijau pekat dan tangkai yang bisa mencapai dua meter, selama ini hanya dikenal sebagai pakan ternak atau direbus sederhana. Namun di tangan Kelompok Wanita Tani (KWT) Sabrina, Kecamatan Karangtengah, tanaman ini disulap menjadi beras analog sehat dan bernilai ekonomi tinggi.
Dipimpin oleh Ibu Tuni Suwarno, KWT Sabrina berhasil membuat terobosan pangan alternatif berbahan dasar talas beneng. Produk inovatif ini dinilai bisa menjadi solusi ketahanan pangan sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat. “Selama ini talas beneng hanya direbus atau dijadikan pakan ternak. Dengan adanya beras analog, kami berharap bisa menembus pasar dan memberi manfaat ekonomi bagi warga,” ujar Ibu Tuni, Senin (22/9/2025).

Talas beneng dikenal memiliki kandungan gizi tinggi. Dalam 100 gram, terdapat energi 83,7 kkal, karbohidrat 18,3%, pati 15,21%, protein 2,01%, lemak rendah 0,27%, serta serat pangan yang melimpah. Kandungan tersebut menjadikannya sangat potensial sebagai pangan alternatif sehat.
Di Wonogiri, talas beneng hampir bisa tumbuh di seluruh wilayah, terutama di Kecamatan Karangtengah. Kondisi iklim dengan suhu 27–30 derajat Celcius dan curah hujan 2.500–2.800 mm per tahun membuat tanaman ini tumbuh subur dan mudah dibudidayakan.
Sayangnya, meski beras analog dari talas beneng sudah terbukti sehat dan inovatif, kendala utama masih terletak pada pemasaran, pengembangan, serta kurangnya bimbingan teknis dari pihak terkait. “Produk kami masih sebatas untuk pameran. Kami berharap ada dukungan pemerintah agar bisa berkembang dan masuk pasar nasional bahkan ekspor,” lanjutnya.
Pakar pangan menilai, inovasi beras talas beneng layak mendapat perhatian serius. Selain sehat, bahan bakunya sangat melimpah dan berpotensi besar menggerakkan ekonomi lokal, UMKM, hingga membuka peluang ekspor.
Dengan inovasi ini, Wonogiri bukan hanya dikenal sebagai daerah agraris, tetapi juga pionir dalam pengembangan pangan alternatif masa depan. Jika didukung secara konsisten, beras analog talas beneng bisa menjadi komoditas unggulan Indonesia menuju kemandirian pangan.






