Tan Khoen Swie, Putra Wonogiri yang Menjadi Penerbit Legendaris Nusantara

Dari Wonogiri hingga Kediri, jejak Tan Khoen Swie menjadi warisan literasi Jawa yang mendunia.

Beritawonogiri.com [WONOGIRI] – Tan Khoen Swie, nama yang mungkin tak asing di telinga para pemerhati sejarah literasi Jawa, ternyata lahir di Wonogiri pada akhir abad ke-19. Ia kemudian dikenal luas sebagai penerbit legendaris yang menghidupkan kembali karya-karya sastra Jawa dan Melayu melalui Boekhandel Tan Khoen Swie di Kediri.

Dalam catatan sejarah, Tan Khoen Swie beroperasi aktif mulai tahun 1915 hingga 1953. Melalui penerbitannya, ia berhasil mengedarkan ratusan judul buku, mulai dari serat, suluk, babad, wayang, hingga teks hukum dan pertanian, yang saat itu menjadi kebutuhan penting masyarakat Jawa dan Nusantara.

“Peran Tan Khoen Swie tak hanya sebagai penerbit, tetapi juga sebagai agen kebudayaan Jawa. Ia membuka akses bacaan di luar Balai Pustaka dan menciptakan ruang publik literasi bagi rakyat,” tulis Dr. Wisnu M. Hum dalam bukunya Boekhandel Tan Khoen Swie, Kediri: Agen Kebudayaan Jawa 1915–1963 (Elex Media, 2023).

Buku-buku yang diterbitkan Tan Khoen Swie tidak hanya beredar di Jawa, tetapi juga sampai ke luar negeri. Ia ikut mendorong transformasi masyarakat dari budaya tutur menuju budaya baca, sebuah langkah besar dalam sejarah literasi Indonesia.

Selain menerbitkan karya-karya klasik seperti Ranggawarsita, Mangkunegara IV, Ki Padmosusastro, hingga Yasadipura, Tan Khoen Swie juga mencetak ulang teks-teks penting yang hingga kini masih menjadi rujukan para peneliti budaya Jawa.

Jejak fisiknya masih dapat ditemukan di Jl. Dhoho, Kediri, tempat rumah dan tokonya dahulu berdiri. Ribuan buku tua peninggalannya sempat ditemukan di awal 2000-an, mendorong wacana pelestarian situs bersejarah tersebut.

Meskipun ia wafat pada tahun 1953, warisan Tan Khoen Swie masih terasa hingga kini. Kelahirannya di Wonogiri menjadi penanda bahwa daerah kecil pun mampu melahirkan tokoh besar yang memberi pengaruh luas bagi sejarah literasi Nusantara. (dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *