MUI Angkat Bicara Terkait Konten AI ‘ Hari Pertama di Neraka’

Berbahaya jika Neraka Diparodikan sebagai Tempat Bersuka Ria

BeritaWonogiri (VIRAL) – Jagad Sosial Media, baru-baru ini heboh memperbincangkan konten artificial intelligence (AI) yang mempertontonkan aktivitas ‘Hari Pertama di Neraka’. Konten itu pun menuai kontroversial.

Konten AI berjudul “Hari Pertama di Neraka” yang viral di media sosial pada Juni 2025 pertama kali diunggah oleh akun TikTok @veo3sesat pada 2 Juni 2025.

Video tersebut diduga menggunakan teknologi AI dari Google bernama Veo untuk menciptakan visualisasi neraka dengan nuansa humor.

Akun TikTok @veo3sesat sendiri telah meminta maaf dan menghapus video tersebut menuai kontroversi dan kecaman dari netizen, tokoh agama, serta organisasi seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Meski demikian, jejak digital konten tersebut tetap viral karena banyak netizen yang mengunggah ulang di berbagai platform.

Ketua MUI Bidang Informasi dan Komunikasi (Infokom), Kiai Masduki sangat menyayangkan kreaktivitas masyarakat yang memparodikan ajaran agama, sehingga menuai kontroversi dan kritik negatif dari masyarakat.

“Isu mengenai artificial intelligence (AI) yang di dalamnya ada gambaran mengenai hari pertama di neraka, itu cukup membuat heboh di masyarakat dan bisa menimbulkan kontroversi hingga rasa permisif terhadap agama,” ungkap Kiai Masduki, dikutip MUI.or.id, Kamis 19 Juni 2025.

Dikatakan, Neraka merupakan salah satu ‘punishmen’, sebuah ancaman yang berat dari sebuah ajaran agama.

“Di dalam video tersebut digambarkan seolah-olah neraka digampangkan (disepelekan) dengan diparodikan suasana bersuka ria di dalamnya, saya kira itu sangat berbahaya,” katanya.

Sebelum video tersebut viral, terdapat pula video hasil AI yang menggambarkan Ka’bah menjadi sarang LGBT. Hal tersebut menurut Kiai Masduki, tentu sudah sangat meresahkan dan masuk dalam kategori penistaan agama.

Kiai Masduki juga menjelaskan bahwa AI sebenarnya memiliki dua sisi dalam penggunaannya, yakni sisi terang dan juga sisi gelap.

Sisi terang yang dimaksud adalah, bahwa AI mampu menjawab banyak hal. Mahasiswa, pelajar maupun orang awam yang  tidak tahu terhadap masalah-masalah umum maupun masalah keagamaan, banyak dijawab oleh AI.

Akan tetapi Kiai Masduki menegaskan, bahwa AI memiliki sisi gelapnya, yakni AI tidak bisa membedakan mana sisi agama yang benar dan tidak benar.

“AI tidak bisa membedakan mana yang ekstrim dan mana yang moderat, mana islam yang tawasut, mana islam yang berlebihan. Jadi semuanya masuk saja di AI,” ujarnya.

Menurut Kiai Masduki, sangat penting bagi seseorang dalam beragama untuk memiliki guru yang bisa membimbing, dan bisa bertanya lebih lanjut terkait substansi konten yang ada di AI tersebut.

“Penting bagi kita belajar agama itu bersanad, artinya ada silsilah keguruannya. Karena kalau hanya belajar melalui AI maka agama itu seperti hutan belantara,”ungkapnya.

Sebagai penikmat AI, Kiai Masduki mengimbau harus pandai menimbang-nimbang, menyaring dan  mengkritisi konten-konten yang ada. (Irfandy*/Dea Oktaviana, ed: Nashih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *