Wapres Gibran Salat Jumat di Masjid Agung Solo, Lanjut Sate Bareng Raja Keraton

Agenda Santap Sate dan Diskusi Ringan di Warung Legendaris

BeritaWonogiri.com [SURAKARTA] – Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, menjalani agenda penuh silaturahmi dan kerja di Kota Solo, Jumat (16/1/2026). Diawali dengan menghadiri ijab qabul kerabat, Wapres Gibran kemudian melaksanakan salat Jumat di Masjid Agung Keraton Surakarta Hadiningrat. Agenda dilanjutkan dengan makan siang bersama di warung sate legendaris sambil membahas perkembangan Kota Solo yang juga dikenal sebagai Kota Bengawan.

Gibran Rakabuming Raka tiba di kawasan keraton sekitar pukul 11.55 WIB, didampingi putra sulungnya, Jan Ethes Srinarendra. Kehadiran Wapres ke Masjid Agung Surakarta untuk menunaikan ibadah salat Jumat ini disambut hangat oleh Wali Kota Solo, Tyo Respati Ardi, serta para petinggi Keraton Surakarta, yaitu PB XIV Purboyo, PB XIV Hangabehi, dan Maha Menteri Kanjeng Gusti Panembahan Agung Tedjowulan. Momen kebersamaan ini menjadi simbol harmonisasi antara kepemimpinan nasional, daerah, dan budaya.

Kunjungan Wapres Gibran ke Solo tidak hanya bernuansa ibadah dan keluarga, tetapi juga mengandung dimensi politik dan kebudayaan yang kental. Pertemuan dengan pimpinan daerah dan keraton menunjukkan komitmen untuk menjaga sinergi dalam pembangunan.

Dari pantauan di lokasi, suasana di sekitar Masjid Agung Keraton Surakarta tampak khidmat. Wapres Gibran bersama rombongan masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan salat Jumat berjemaah. Kehadiran putranya, Jan Ethes, menambah kesan kekeluargaan dalam kunjungan ini. Usai salat, terjadi sapa-sapa dan jabat tangan yang hangat di pelataran masjid, menunjukkan keakraban antara Wapres Gibran dengan para sesepuh dan pemimpin di Solo.

Tidak langsung meninggalkan kompleks keraton, rombongan kemudian berjalan kaki menuju Warung Sate Kambing Muda “Pak Joko” yang terletak persis di depan Pasar Klewer. Di warung sederhana yang terkenal dengan kelezatan sate dan tongseng kambing mudanya itu, Wapres Gibran duduk semeja dengan Wali Kota Solo dan dua raja Keraton Surakarta. Suasana terlihat santai dan penuh keakraban. “Pertemuan Wapres dan dua raja ini membuat suasana terlihat adem,” seperti dilaporkan dari lokasi.

Saat ditemui usai menyantap hidangan, Wapres Gibran Rakabuming Raka menjelaskan bahwa pertemuan tersebut lebih bersifat silaturahmi sambil membahas kondisi terkini Kota Solo. “Hari ini setelah menghadiri ijab qabul saudara saya, tadi kita Jumatan bareng Pak Wali, Gusti Behi, Gusti Purboyo, Gusti Tedjowulan. Lalu tadi kita makan sate, makan tongseng sebentar sambil membicarakan kondisi Kota Solo dan juga Keraton,” ujarnya.

Lebih lanjut, Gibran menyampaikan pesan khusus kepada Wali Kota Solo. “Mohon selalu dijaga kondusivitasnya, aset-aset yang sudah terbangun mohon bisa terjamin dengan baik. Kota Solo yang kaya akan kebudayaan tolong dijaga semua,” tegas Wapres. Pernyataan ini menegaskan perhatiannya pada pelestarian warisan budaya dan keberlanjutan pembangunan di kota kelahirannya tersebut.

Usai berbincang dengan awak media, Wapres Gibran Rakabuming Raka tidak berhenti di warung sate. Bersama Wali Kota Respati Ardi, ia melanjutkan kunjungan kerja ke Kampung Batik Kauman, salah satu sentra batik tertua dan paling bernilai di Solo. Kunjungan ini sekaligus menegaskan dukungan terhadap usaha mikro dan industri kreatif berbasis budaya yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Solo. Sementara itu, PB XIV Purboyo dan PB XIV Hangabehi memilih untuk tidak ikut dalam rangkaian selanjutnya.

Kunjungan Wapres Gibran Rakabuming Raka ke Solo pada Jumat, 16 Januari 2026, merupakan sebuah narasi yang padat makna. Dari Masjid Agung Keraton sebagai simbol spiritualitas dan identitas budaya, ke warung sate yang merepresentasikan kehidupan sehari-hari masyarakat, hingga ke Kampung Batik Kauman yang menjadi pusat ekonomi kreatif. Semua rangkaian ini menggambarkan pola kepemimpinan yang menyatu dengan tradisi, agama, dan dinamika sosial ekonomi lokal. Pesan untuk menjaga kondusivitas dan aset budaya Kota Solo bukan sekadar pesan untuk daerah, tetapi juga cerminan dari visi pembangunan nasional yang berakar pada kearifan lokal. (RRI)

Komentar