Beritawonogiri.com [KLATEN] – Setiap perayaan Yaqowiyu di Kelurahan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, aroma kue apem yang baru dipanggang memenuhi udara, mengundang decak kagum para pengunjung. Tradisi warisan Ki Ageng Gribig ini tidak hanya menjadi momen spiritual, tetapi juga magnet budaya yang menghidupkan ekonomi lokal. Pada puncak perayaan Yaqowiyu, Jumat (8/8/2025), lapak-lapak penjual kue apem khas Jatinom ramai diserbu pembeli, baik warga lokal maupun wisatawan dari berbagai daerah.
Monica (28), seorang penjual kue apem di Jatinom, menjadi salah satu sosok yang merasakan berkah tradisi ini. Di depan deretan kompor yang menyala, ia bersama keluarga dan tetangga sibuk memanggang adonan kue apem. “Sudah habis 2 kuintal adonan dalam beberapa hari ini,” ungkap Monica sambil cekatan membungkus pesanan.
Dalam sehari, ia mampu memproduksi lebih dari 5.000 keping kue apem, yang dijual seharga Rp10.000 per bungkus berisi 6 keping. Pesanan datang dari berbagai daerah, menjadikan kue apem sebagai oleh-oleh khas perayaan Yaqowiyu.Monica bukan pendatang baru dalam bisnis ini. Sejak kecil, ia telah belajar membuat kue apem dari resep keluarga yang diturunkan secara turun-temurun.
Untuk menjaga cita rasa otentik, ia mempertahankan resep tradisional, namun menambahkan inovasi rasa seperti nangka, gula jawa, coklat, pandan, dan original. “Resepnya dari leluhur, tapi sekarang kami kembangkan dengan variasi rasa supaya lebih menarik,” katanya. Kecakapan Monica dalam memanggang dan membungkus kue apem mencerminkan pengalaman panjangnya di tengah tradisi Yaqowiyu.
Tak hanya penjual harian seperti Monica, perayaan Yaqowiyu juga membawa berkah bagi penjual musiman. Isma (27), yang membuka lapak di dekat kompleks makam Ki Ageng Gribig, mengaku kebanjiran pesanan meski baru berjualan sejak Kamis (7/8/2025). Dalam sehari, ia mampu mengolah 5-6 kilogram adonan menjadi kue apem yang laris manis. “Banyak yang beli untuk buah tangan, apalagi ini momen spesial,” ujar Isma.
Lapaknya yang strategis di dekat lokasi perayaan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin membawa pulang kenangan manis dari Jatinom.Perayaan Yaqowiyu tidak hanya melestarikan warisan budaya Ki Ageng Gribig, tetapi juga menjadi roda penggerak ekonomi lokal.
Kue apem, dengan aroma dan rasanya yang khas, telah menjadi simbol tradisi yang menyatukan masyarakat dan wisatawan. Dari tangan-tangan terampil seperti Monica dan Isma, kue apem Jatinom terus mengukir cerita manis tentang kearifan lokal, kerja keras, dan semangat kebersamaan yang hidup di setiap perayaan Yaqowiyu.






