Gubernur Ahmad Luthfi Gandeng BKSAP DPR RI, Genjot Potensi Investasi Baru di Jawa Tengah

Revitalisasi Pelabuhan dan Pembangunan Dry Port

BeritaWonogiri.com [SEMARANG] – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggenjot langkah strategis untuk menjadikan daerahnya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi nasional. Salah satu fokus utamanya adalah menarik aliran investasi baru di Jawa Tengah dengan memperluas akses pasar internasional dan memperkuat infrastruktur logistik agar perdagangan daerah semakin kompetitif di tingkat global.

Rencana besar tersebut disampaikan oleh Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, saat menerima kunjungan kerja Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu, 1 Juli 2026.

Dalam pertemuan itu, Ahmad Luthfi meminta BKSAP DPR RI memaksimalkan jejaring diplomasi parlemen internasional untuk membuka peluang pasar ekspor bagi produk unggulan lokal. Gayung bersambut, Jawa Tengah kini dilaporkan mulai dilirik oleh para investor global sebagai lokasi utama relokasi industri padat karya dari Vietnam.

“Padat karya nanti akan dipusatkan di Jawa Tengah untuk bersaing dengan Vietnam. Di Vietnam sudah mulai penuh. Ada investor yang akan menarik beberapa industri padat karya dari Vietnam ke Jawa Tengah,” ujar Luthfi.

Gubernur menilai momentum emas ini harus dikawal bersama agar proses relokasi modal berjalan optimal. Namun, ia mengakui bahwa penguatan sektor logistik masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar yang harus segera dituntaskan karena kapasitas pelabuhan lokal belum mampu menampung tingginya arus distribusi barang.

Dari total kebutuhan logistik kontainer nasional yang mencapai 10 juta kontainer per tahun, sekitar 7 juta kontainer di antaranya berasal dari Jawa Tengah. Sayangnya, baru sekitar 30 persen komoditas yang dapat dilayani melalui Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, sementara sisanya masih bergantung pada pelabuhan di Jakarta dan Jawa Timur.

Sebagai solusi konkret, Pemprov Jawa Tengah mendorong percepatan revitalisasi Pelabuhan Tanjung Emas serta menjajaki pengembangan pelabuhan baru di wilayah Kendal, Batang, Rembang, dan Cilacap.

“Kami minta didorong revitalisasi Pelabuhan Tanjung Emas. Kalau itu belum memungkinkan, kami siapkan dry port di Kendal dan Batang,” tegas Luthfi.

Langkah taktis perbaikan logistik ini diyakini akan menekan biaya distribusi sekaligus memperkuat daya saing wilayah. Terbukti, pada Triwulan I 2026, realisasi investasi baru di Jawa Tengah sudah menembus angka Rp23 triliun dengan penyerapan sekitar 92 ribu tenaga kerja. Catatan ini melanjutkan tren positif sepanjang tahun 2025 yang berhasil membukukan investasi sebesar Rp110 triliun.

Optimisme serupa juga diungkapkan oleh Wakil Ketua BKSAP DPR RI, Muhammad Husein Fadlulloh. Ia menyebut Jawa Tengah memiliki peluang besar untuk memperluas pasar ekspor, terutama menyambut perjanjian dagang Indonesia-Uni Eropa yang akan berlaku efektif pada tahun 2027.

“Ini menjadi potensi baru bagi Jawa Tengah untuk membuka pasar ke Eropa. Banyak produk Indonesia nantinya sudah tidak lagi terkendala tarif ketika masuk ke pasar Uni Eropa,” jelas Husein.

BKSAP DPR RI menegaskan kesiapannya membantu promosi daerah melalui grup kerja sama bilateral yang tersebar di 102 negara mitra internasional untuk memperkenalkan potensi perdagangan dan investasi Jawa Tengah secara global. (*)

Komentar