Fakta Ericko Mahasiswa UGM Korban Tabrak Lari, 11 Tahun Hidup Tanpa Ayah

Kasih Ibu Sepanjang Masa

BeritaWonogiri.com (Yogyakarta) – Jagat maya beberapa hari ini diramaikan dengan kasus tabrak lari yang menewaskan mahasiswa hukum UGM, Argo Ericko Achfiandi.

Remaja 19 Tahun warga Depok, Jawa Barat itu meninggal dunia setelah sepeda motor Vario yang ditungganginya tertabrak mobil BMW yang dikendarai Cristiano Pangarapenta (CPP) di kawasan jalan Palagan, Sleman.

Kepergian Argo menyisakan duka mendalam sang ibu, Meillinia. Pasalnya, sang putra tercinta merupakan anak yatim yang hidup 11 tahun tanpa figur seorang ayah. Sejak kepergian suaminya pada 2014, ia berjuang keras demi sang anak bisa mengemban pendidikan agar berhasil di masa depan.

“Saya ibu yang mendidik hingga saat ini seorang diri tanpa adanya suami,” ucapnya, dikutip berbagai sumber media sosial.

Meski tak kuasa menahan kesedihan, ia masih sempat mengucap terima kasih atas dukungan dan perhatian yang diberikan untuk sang anak. Baginya, Argo merupakan anak baik yang hebat dan semangat kuliah.

Diketahui, kecelakaan maut yang menewaskan Argo terjadi di Jalan Palagan Tentara Pelajar, tepatnya di simpang tiga Dusun Sedan, Kelurahan Sariharjo, Ngaglik, Kabupaten Sleman, Sabtu dini hari, 24 Mei 2025.

Argo mengalami luka cidera kepala, bibir atas sobek, paha kiri memar, lecet tangan kiri dan meninggal dunia di RS Bhayangkara Polda DIY.

Kronologi kecelakaan bermula ketika sepeda motor Argo, Honda Vario nopol B-3373-PCG melaju ke arah utara di jalan Palagan, sekira pukul 01.00 dini hari.

Diperkirakan, Argo bermaksud berputar arah di lokasi kejadian, namun dari arah yang sama, melaju Mobil BMW nopol B-1442-NAC  dikemudikan Cristiano Pangarapenta, warga Jakarta Selatan.

Karena jarak yang dekat, korban tertabrak. Kerasnya benturan mengakibatkan Argo mengalami luka parah dan meninggal dunia di lokasi kejadian

“Saya bersaksi sebagai ibunya, Argo adalah anak yang baik, anak yang hebat, dan anak yang memiliki kasih tinggi, semangat terutama dalam kuliah,” ungkapnya sambil menangis.

Meillinia baru menyadari perjuangan puteranya mendapatkan nilai terbaik di UGM setelah tiada.

“Saya baru mengetahui dari anak-anak fakultas terutama teman-teman mahasiswa, ternyata sebegitunya effort anak saya, sebegitu semangat sekali dalam mencapai cita-citanya,”  (Irfandy*/ Dikutip dari berbagai sumber medsos)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *